Oke, pagi ini diawali dengan aku masih tertidur pulas kemudian dibangunkan oleh jam weker seiko warna biru muda pemberian bapakku ketika ulang tahunku yang 17. Satu-satunya alarm yang bisa membangunkan aku disaat jauh dari kedua orang tua. Oke jadi kepikiran, semoga lain kali aku bisa menuliskan cerita tentang jam weker itu.
1. The Email
Setelah bangun, seperti biasa aku mencuci muka, hmm mencuci kedua mataku lebih tepatnya, dengan air keran di toilet kosku yang paling indah, hehe. Setelah cuci mata, seperti biasa aku merebahkan diri untuk menenangkan diri sebelum benar-benar beraktivitas. Aku mengambil hp yang sedang di charge, kemudian mengecek notification, ada beberapa email yang masuk, satu email yang cukup penting dari seorang editor/videografer dari Pakistan kalo gasalah, sebelumnya dia ngehubungin lewat dm instagram di akun kikukfilms, doi ngajakin kolaborasi gitu kurang lebih, dan aku mengiyakannya dengan memberikan email address.
Aku membaca email yang isinya CV dan juga beberapa showreel. Aku sampai saat ini belum tau mau meresponnya seperti apa. Aku ngga tau harus balas gimana, karena sebetulnya masih belum paham juga doi maunya bikin karya bareng, atau pengen ngeditin film kita, atau pengen ke indonesia dan butuh host. Belum jelas sebetulnya, dan diriku ini juga belum punya cukup niat untuk menanyakan kejelasannya itu.
Kelar nonton satu video showreelnya yang cukup biasa dengan musik-musik showreel kebanyakan, showreel dengan visual biasa saja tapi musiknya yang terlalu epic untuk menjadi musik latar belakang. Aku tidak bermaksud untuk merendahkan selera orang, cuma aku just wondering kenapa seolah showreel itu udah ada template-nya gitu, rata-rata showreel yang aku liat selama ini di youtube kebanyakan juga bergaya serupa.
Skip skip skip masalah itu, akhirnya aku ketiduran entah karena menonton video showreel lainnya atau karena membaca CVnya, sudah lupa aku, padahal belum sehari pula. Intinya isi CVnya bagus, banyak sekali karya yang udah dikerjain sama doi, cuma aku aja masih bingung balasnya gimana.
2. The Book
Ketiduran dari jam 8 sampai setengah 11, aku masih bermalas-malasan, buka instagram, line, twitter, facebook secara bergantian, padahal ngga ada notif yang begitu berarti. Hmm seharusnya aku bangun, mandi trus baca buku, idealnya.
Beberapa puluh menit kemudian aku memutuskan untuk beranjak dari tempat tidurku, lalu aku membawa mug untuk mengambil air di dispenser. Aku duduk di kursi ruang TV dengan kamar kosku, sebuah kursi yang biasa aku dudukin kalau pengen suasana yang beda daripada meja di kamar. Aku duduk meneguk air putih hingga habis setengah, lalu aku yang masih tak memakai kaos (hanya ditutupi handuk) masuk ke kamar untuk mengambil laptop. Aku menggunakan mode tablet di laptopku, lalu membuka sebuah e-book Film Art, sebuah kitab yang wajib dimiliki dan dibaca oleh insan perfilman, khususnya mahasiswa film. Tapi sebelum itu, aku merapikan isi folder download, lalu membuat folder khusus e-book, lalu di dalamnya kubuat lagi folder film e-books.
Sekilas info, jadi beberapa hari yang lalu aku dan Bunga memutuskan untuk mulai membaca buku film, setelah merenung karena menonton sidang karya tugas akhir yang nampaknya cukup mengerikan jika tidak kita siapkan dari sekarang dengan amunisi yang mumpuni, yaitu buku film. Kita berencana baca 1 buku bareng, lalu menonton film yang dibahas di buku itu, lalu mendiskusikannya di akhir pekan, lalu lanjut membacanya lagi. Tapi beberapa hari berlangsung hal itu masih menjadi wacana saja, terlebih lagi karena banyaknya pekerjaan/editan dan juga mixing film pendek kami yang harus dirampungkan karena kebutuhan akan didistribusikan di festival film JAFF (Jogja). Di tengah-tengah kami sedang mengedit, aku nyeletuk dan bilang gimana kalau kita mulai baca dari tanggal 1 september. Pikirku, hal-hal semacam ini harus dimulai di hari dan tanggal yang mudah diingat dan awal bulan/tanggal 1 menandakan suatu awal. Bagi kami, semoga ini menjadi awal dari hal yang baik.
Buku yang kita pilih yaitu Film Art: an Introduction edisi 11. Buku yang aku download ketika nunggu Bunga ngedit di kosannya beberapa hari yang lalu, waktu itu kita coba mempraktekkan membaca buku itu, menjelajah daftar isi dan coba membaca 1 halaman. Sekali bunga nyeletuk, "bacain dong buat gue". Oke jadi aku punya trik lucu, jadi aku pakai fitur read aloud di microsoft edge, tempat aku buka e-book itu. Nah sambil kita mendengarkan komputer membacakan tulisan itu, kami juga ikut membacanya. Kata Bunga, ini cara yang menarik dan efektif untuk belajar. Jadi selain belajar isinya, kita belajar tentang pronunciation dari kata-kata bahasa inggris di buku itu.
Buku ini seharusnya sudah kita habiskan ketika semester awal, setidaknya semester 4 sudah habis terbaca, tapi entah kenapa mager banget rasanya baca buku tebel banget dan isinya english semua. Akhirnya baru niat baca sekarang, setelah ada rasa takut akan sidang akhir nanti.
Oke jadi aku baca bab pertama dari buku itu, isinya kurang lebih ngejabarin tentang film as art dan juga bisnis. Berbeda dengan seni lainnya, film membutuhkan uang dan dana yang banyak pada setiap prosesnya, film juga membutuhkan kolaborasi banyak orang untuk berkarya di dalamnya. Di bab itu dijabarkan pula tentang salah kaprah mengenai pemahaman film mainstream yang dibilang film untuk entertainment, lalu film art ialah film-film yang benar-benar hanya mementingkan estetika.
Kurang lebih itu yang aku inget dari 3 halaman yang aku baca. Adzan dzuhur berkumandang, artinya aku harus beli makan, supaya setelah makan bisa bersiap-siap untuk ke kampus karena ada kelas jam 1.
3. The Lunch
Aku beli nasi padang rizky dekat kosan dengan naik motor, dengan menu yang paling sering aku pesan: nasi setengah porsi + telor dadar + tempe + sayur kol + kuah. Porsi yang sedikit berlebihan tapi kombinasi lauk dan sayuran yang aku suka bikin aku selalu menghabiskan makan siang dengan menu yang hampir sama setiap aku beli nasi padang disana. Selain karena enak, harganya juga sangat sangat terjangkau dibandingkan dengan tempat lain, mungkin ada yang lebih murah tapi aku yakin tidak seenak yang aku pesan ini. Tak lupa aku membeli 2 potong pepaya di akang-akang langganan di depan nasi padang seharga 5.000, jadi total harga makan siangku ini 11.000 + 5.000 = 16.000.
Aku menghabiskan makan siang ini di meja kamar sambil lanjut menonton series The Naked Director di indoxxi. Aku menonton episode 2 dan pecah banget, tapi karena 10 menit lagi sudah jam 1, jadi aku memutuskan untuk menunda dan mandi serta siap-siap untuk ke kampus.
4. The Students
Sampai di kampus, pertama sedikit dibingungkan dengan alur baru menuju parkiran, karena sedang ada renovasi. Kemudian aku masuk kelas, dan kaget banget karena dari luar kelas keliatan penuh, aku pun mengintip dari pintu dan menanyakan ke Afda, salah satu mahasiswi seniorku, dan salah satu dari sangat sedikit orang yang aku kenal di kelas itu.
Kelasnya tidak begitu besar, tapi mahasiswanya banyak sekali, aku masuk dan tersisa tempat duduk di pojokan, untungnya disampingku ada junior yang sudah aku kenal. Jadi aku ngga terlalu merasa asing disini. Aku nanya ke dia jumlah mahasiswa dengan major penyutradaraan di angkatan mereka (2017), katanya ada 24 orang. Waduh pantes saja kelas ini penuh, pikirku. Mulanya minder banget aku masuk kelas sebagai seorang yang lebih tua 1 tahun di kampus ini. Tapi ya sudahlah, untung saja ada beberapa kawan, kalau ga salah ada 4 orang lainnya dari angkatan yang sama denganku ada di kelas itu, kelas Penyutradaraan Non Drama, kelas yang seharusnya aku ambil setahun yang lalu, tapi karena krs sudah cukup penuh dan ada mata kuliah yang jadwalnya bentrok ketika itu, maka aku baru bisa mengambilnya sekarang.
5. The Lecture
First Impression, jujur saja aku sedikit meremehkan orang yang duduk di bangku dosen ini. Pasalnya ia tak pernah aku liat tampangnya di kampus, maupun di media. Terlebih ketika aku masuk kelas ini, yang mana aku telat sekitar 20 menitan, ternyata kelas ini belum dimulai. Kemudian belasan menit aku berada di kelas itu si mas-mas dosen ini masih sibuk dengan kabel dan remote projektor yang tidak kunjung berfungsi.
Otomatis di pikiranku terbentuk asumsi bahwa ini mungkin dosen yang akan cukup membosankan, mungkin juga dia bakal banyak memberikan materi saja tanpa banyak pengalaman di lapangan. Serta banyak lagi asumsi-asumsi negatif lainnya, terlebih ketika dia sekali berbicara kepada kami mengatakan untuk menunggu sebentar karena ia masih berkutit dengan kabel projektor itu, huftt.
6. The Portfolio
Dosen ini mulai memperkenalkan dirinya, ia menampilkan sebuah dokumen yang berisi portofolionya.
Wah, aku salah.
Asumsi-asumsi negatif tadi langsung teruntuhkan karena sangat banyakknya program acara yang sudah ia kerjakan, spesifiknya lagi, sudah ia pimpin sebagai program director. Mulai dari Indonesian Idol, Piala AFF, hingga upacara kemerdekaan ke-74 Indonesia beberapa waktu lalu.
Oke mas Agung (namanya), menceritakan lumayan banyak pengalamannya di dunia televisi. Ternyata cukup mengasyikkan sebagai pertemuan pertama kuliah, karena orangnya tak sekaku yang aku kira sebelum ia memulai perkuliahan itu.
Menariknya, ia juga menjanjikan akan membawa kami (mahasiswa) untuk datang ke salah satu program acara televisi untuk melihat langsung bagaimana pekerjaan para kru dibalik layarnya bekerja. Hmm oke juga nih dosen, aku sih berharap kedepannya semoga banyak yang bisa dibagikan oleh dosen ini. Sempet juga terlintas dipikiranku, kenapa aku ngga magang di dia aja yaa.. hehehe, bisa aja nih otak mahasiswa oportunis.
7. The Red Cross
Semalam sebelumnya, aku berjanji dengan Vian untuk melaksanakan kewajiban rutin kami setiap tiga bulan yaitu donor darah. Oke jadi setelah kelas, aku bertemu Vian, sedikit mengobrol, lalu ke ruang akademik sebentar untuk urusan akademiknya Bunga yang harus aku tanyakan.
Kami berdua menuju kosan untuk ngambil kartu donor, kemudian langsung saja ke gedung PMI Jakarta Pusat, yang posisinya deket banget sama kosan dan juga kampus. Sampai sana, tak seperti biasanya, sepi banget. Karena biasanya kami donor malam hari, bahkan tengah malam, sehingga ramai.
Ohya rencana donor ini sebenarnya sudah ada dari beberapa minggu yang lalu, tapi karena beberapa kesibukan kami jadi tertunda dan baru kelaksana sekarang. Biasanya juga kami donor dengan Reksy, temen kampus sekaligus temen kosan, tapi berhubung ia sudah donor duluan beberapa minggu yang lalu, trus dia juga sedang ada di luar kota, jadi aku donor berdua saja dengan Vian.
Tanpa banyak antri, donor dilakukan seperti biasanya dan semuanya berjalan dengan baik dan normal, kecuali setelah donor, aku ke kantin untuk menukarkan nota dengan makanan gratis. Ternyata, kalau siang/sore kita donor, kita dapat makanan yang dimasak dan bisa dinikmati disana. Aku baru tau, karena sebelumnya yang kami dapat ialah tas dengan isi mie instan, minuman kotak, susu kotak, dan snack. Kali ini cukup berbeda, dan aku senang, meskipun menunya ngga bisa pilih. Tapi rasa dari lontong sayur yang tidak terlalu segar ini lumayan membuat perasaanku lebih baik hari ini.
Sambil menunggu Vian kelar donor, aku makan. Vian datang lalu kami mengobrol sekitar setengah jam mengenai film, kampus, sampai hal-hal sepele. Lalu sekitar setengah 5 kami memutuskan untuk pindah tempat dari kantin tersebut, lebih tepatnya aku mau pulang, padahal Vian memelas untuk menemaninya cerita di tempat lain, kafe mungkin. Tapi kali ini aku cukup berani dan sedikit jahat karena menolaknya, duh maaf yaa Vian. Tapi aku punya janji sama diriku sendiri di kos.
Sebelum ke kos, aku harus ke kampus untuk mengantar Vian mengambil sepedanya. Di perjalanan dia keliatan cukup kesal denganku, entah sungguhan atau dilebih-lebihkan.
8. The Surprise
Sampai di kampus, kami berpapasan dengan beberapa teman seangkatan kami. Ketika hendak pulang, aku dicegat oleh Rama, salah satu teman seangkatan yang mengambil major sinematografi. Kami membicarakan tentang tugas akhir, tentunya pembahasan yang wajib kali ini ialah mengenai kelompok tugas akhir. Ia sempat menanyakan tentang siapa saja sutradara yang memerlukan sinematografer di kelompoknya, lalu basa-basi lainnya. Hingga saatnya satu kejutan yang selalu aku berusaha hindari ketika membicarakan tentang tugas akhir.
Yaitu.. Lamaran.
Entah kenapa pembahasan mengenai kelompok tugas akhir di kampusku masih menjadi pembicaraan yang cukup tabu di kampus, setidaknya menurutku sendiri. Aku merasakan sedikit banyaknya kecanggungan ketika teman membicarakan hal ini.
Jawabanku atas lamaran dia adalah, aku memilih untuk menunda dan akan menanyakan ke kelompokku terlebih dahulu, karena ini adalah keputusan kelompok, dan bukan cuma keputusan sutradara saja. Karena tugas akhir menyangkut hajatan seluruh anggota kelompok, suka ngga suka, semuanya harus diputuskan bersama.
Kami pulang, lucunya adalah percakapan kami itu berlangsung di atas motor kami masing-masing, dengan mesin yang masih menyala dan juga helm masih di kepala. Kami saling melontarkan hal-hal serius namun selalu dibalut dengan candaan supaya tidak terlalu awkward.
Di perjalanan pulang aku memutuskan untuk langsung memberitahu Bunga mengenai hal ini. Sambil naik motor aku chat Bunga via line. Sampai kosan pun aku berniat menceritakan semuanya, beberapa kali aku mencoba menelepon Bunga, tapi dia ngga mau bersuara. Alhasil sampai sekarang semua ini belum dibicarakan dengan serius bersama Bunga maupun anggota kelompokku yang lainnya.
Hari ini menjadi hari yang cukup banyak rasanya. Aku tak tau harus lebih berpihak dengan rasa yang seperti apa. Tapi yang paling aku nantikan ialah hari-hari dengan kejutan, apapun itu. Setidaknya hal itu yang buat aku lebih bersemangat untuk menggerakkan badan dan bercerita dengan orang lain, atau mungkin sekedar menuliskannya di blog ini. Salam!
No comments:
Post a Comment