Sunday, 1 December 2019

Merasakan Rasanya Jadi Sang Pemenang

Aku mau cerita, jadi kemarin (30/11) aku sama bunga dateng di awarding festival film pendek salah satu kampus di Jakarta sebagai delegasi film Penjor, film temenku yg jadi finalis. Sutradaranya Ricky, di Bandung dan ngga bisa hadir.
Image

Festivalnya sederhana, baru tahun ke-2, venue-nya juga kecil, hospitality panitianya lumayan meskipun kami harus menunggu sekitar 2 jam sebelum akhirnya acara dimulai. Ternyata masih nunggu penjurian, saat itu juga, ada 13 film. Jadi kami nunggu di luar kafe (venuenya).

Undangannya mengatakan kami harus datang jam 12 siang. Kami berpikir, berarti dapat makan siang disana nih. Eh engga juga, tapi dapat mesen kopi/teh plus dikasi snack ditanggung panitianya. Kami datang jam 1 kurang, lalu berkenalan dengan salah satu panitia, juga beberapa finalis lain. Basa-basi beberapa menit, kemudian kembali sibuk dengan handphone masing-masing.

Jam 3 lebih, kami diminta masuk. Akhirnya, setelah berpanas-panas ria. Aku dan bunga memakai kain/kamen, supaya lebih formal, karena kami cuma pakai celana pendek dan kaos sedangkan finalis lain berpakaian formal. Kami masuk, ada sambutan dari ketua panitia dan juga pembina ukm/komunitas/kumpulan panitia ini pokoknya lah. Senang karena ketika sambutan pembina, kami disebut dan disapa karena memakai kain/kamen khas Bali, wkwkwk padahal karena males formal aja.

Acaranya berlangsung di kafe, katanya biar santai dan engga formal-formal amat. Dan iya bener, saking santainya ini acara udah kaya becanda-becandaan wkwk. Ada beberapa kali kesalahan di operator layar projektornya, kami tertawakan, karena MCnya duluan ketawa trus ngeledek.

Pas penyerahan hadiah juga, saking santainya sampai pas udah penyerahan styrofoam hadiah uang tunai, trus fotoan, eh malah penyerahan plakat-nya kelupaan.

Yaudah kasi plakatnya, trus foto ulang.

Total perolehan hadiah dari film karya temanku ini yaitu 3jt, dari memenangkan 3 nominasi yaitu best screenplay, best editing, dan best film.

Yang paling berkesan dari menghadiri acara ini ialah, aku merasakan banget transisi dari ketika belum masuk venue acaranya merasa bukan siapa-siapa, kemudian pas puncak acara seolah semua pandangan mengarah pada kami, sang pemenang.

Aku dan Bunga beberapa kali melontarkan celotehan, oh gini yaa rasanya jadi pemenang.

Meskipun bukan aku yang menang, tapi seneng banget sih bisa diberikan kesempatan untuk merasakan rasanya jadi pemenang, meskipun di pegelaran yang cukup kecil dan belum bisa dibilang bergengsi.

Ada videonya dong!
Videonya dibuat untuk kebutuhan laporan ke si Ricky sih sebetulnya. Direkam pakai kamera depan, karena kamera belakang hpku sudah lama rusak.


Satu lagi.
Banyak banget lomba/festival film yang diadakan oleh berbagai lembaga sekarang ini. Tapi sangat disayangkan, engga banyak festival yang memberikan kesempatan dan ruang bagi kreator/filmmakernya untuk menyampaikan speech dan visi dari karyanya.

Wednesday, 20 November 2019

Perjalanan, Melepaskan, Melupakan (Part I)

Hari ini aku bangun siang lagi, lagi. Yang membuatnya berbeda ialah, bangun siang kali ini menjadi sebuah permakluman karena aku memulai tidur ini 5 jam sebelumnya. Tulisan ini seharusnya ditulis secepat mungkin sebelum perasaan ini berubah dan ingatan mulai melemah, begitu juga tulisan-tulisan lainnya yang masih mangkrak dan juga masih ada di dalam pikiran dan belum dimulai sama sekali.

Oke jadi di minggu pagi ini, aku baru sampai di kamar kos sekitar jam setengah 9. Jadi ceritanya semalaman ini aku membagikan waktuku untuk teman, sahabat, rekan, bahkan mungkin sudah kuanggap saudara tapi saudara yang masih banyak awkwardnya.

Bunga namanya, namanya sudah pernah aku sebut di tulisanku sebelumnya karena perkara yang kurang lebih mirip dengan yang terjadi saat ini. Dia adalah perempuan yang selalu mengaku dirinya freak, aneh. Itu kalau dipandang dari sisi dirinya sendiri, tapi kalau aku sendiri melihat dia sebagai pribadi yang unik, cerdas, punya perasaan yang sangat sensitif (ini baru aku sadari beberapa bulan terakhir). Tampangnya sederhana, terlebih dengan pilihan berpakaian yang sangat sederhana, seperti celana pendek, kaos, tas ransel, atau kadang celana panjang khaki, yaa seperti itu berulang. Sebagai teman, kita bisa menghafal pakaian apa aja yang akan dia kenakan dalam seminggu, sebulan, bahkan lebih lama lagi.

Penampilannya yang sederhana ditambah dengan rambut pendek dan kacamata membuatnya sering dikira laki-laki, sering, banget. Ini aku dengar dari dia langsung. Bahkan semalam, ada orang yang mengiranya laki-laki waktu pengecekan sebelum masuk ke venue. Dulu sih aku nganggep mungkin dia engga terlalu mempedulikan pandangan orang terhadap dirinya, tapi karena seringnya ia cerita mengenai hal ini, membuat aku jadi menyimpulkan bahwa sebenarnya selama ini ia kesal sekaligus sedih juga karena orang selalu mengiranya seorang laki-laki. Ia selalu mengatakan, orang-orang akan langsung canggung dan merasa bersalah ketika akhirnya mendengarnya bersuara dan menyadari kalau dirinya seorang perempuan.

Aku rasa dua paragraf ini sudah cukup melelahkan bagiku, karena menceritakan Bunga pasti membutuhkan banyak ruang dan banyak niat tentunya. Karena sekali lagi aku katakan, dia ini orang yang sangat unik, dan aku sama sekali tidak bermaksud untuk sarkas.

***

Bermula dari sehari sebelumnya kami merencanakan pertemuan di fore coffee di wilayah Senayan, untuk menyelesaikan editing film pendek terbaru saya (film remake untuk tugas Bang Sam). Bunga berkabar, katanya ia baru bisa datang setelah jam 2 siang karena ia harus menghadiri pernikahan saudaranya. Alhasil sekitar jam 2 lebih ia berkabar katanya baru berangkat dari Depok menuju Senayan. Aku pun masih leha-leha di kosan, masih bingung dengan apa yang akan aku lakukan (seperti biasanya). Ada niat untuk berangkat duluan kesana, tapi akhirnya bingung mau menentukan harus naik motor sendiri, atau naik grab ke bundaran HI trus naik MRT ke Senayan. Kalau dari segi biaya, tentu saja naik grab dan MRT butuh banyak uang. Tapi kalau bawa motor sendiri, takutnya engga ada parkir.

Singkat cerita, aku iseng chat Bunga untuk menanyakan keberadaannya. Dia sudah sampai di stasiun Senayan rupanya. Aku pun bergegas siap-siap berangkat, tapi dilema harus naik kendaraan apa, masih jadi masalah. Bunga akhirnya mengirimkan foto parkiran di dekat titik temu kami setelah aku tanyakan tentang keberadaan parkir motor disana. Langsung aku memutuskan untuk bawa motor sendiri deh.

Sampai di titik temu, kami saling bertegur sapa dengan gaya canggung khas kami. Aku melihatnya duduk di pojokan dengan laptop di depannya, lalu kain selendang yang mengelilingi lehernya, sesekali dimainkannya. Aku pesen aren latte, dan di meja samping laptopnya aku sudah melihat satu cup americano. Akhirnya Bunga minum kopi, tempo hari aku bilang bahwa americano di fore itu enak, karena pahitnya.

Seperti biasa, kami berdua butuh pemanasan yang cukup lama (bahkan bisa berjam-jam), sebelum akhirnya bisa berbicara dengan intens. Ini selalu terjadi, terlebih karena sekarang cukup jarang kami bertemu dan main. Semuanya baik-baik saja, Bunga menutup projek lain yang sedang dikerjakannya, dia tak ingin kalau orang lain melihat apa yang sedang dikerjakannya. Ia lantas membuka projek kami, dan melanjutkan sedikit editan.

Beberapa jam berlalu, kami sudah menonton hasil editan ini berulang kali, berharap menemukan suatu hal baru yang bisa dieksplorasi lagi, tapi nihil. Sepertinya ini sudah cukup. Bunga hendak menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim karena waktu maghrib telah tiba. Kebetulan saja di kawasan tempat kami bertemu, ada masjid.

Beberapa belas hingga puluh menit menunggu, rupanya ia sudah selesai, hanya saja ia masih duduk di bangku di luar kafe. Aku mengetuk kaca untuk sekedar sapa dan bercanda, tapi tak diresponnya. Nampaknya ia sedang berpikir tentang suatu hal yang penting.

Aku menyadari, ketika seseorang sudah berani berekspresi dan memperlihatkan bagaimana perasaan dan juga moodnya saat itu, maka orang tersebut sudah merasa 'aman' dan juga dekat denganku. Setidaknya itu yang aku rasakan ketika selama ini berteman dengannya. Dulu tidak pernah ia berani menunjukkan wajah kesal, sedih, marah di depanku. Sudah pasti ditutupi dengan trik wajah palsunya. Disana aku tak begitu menyadari, dan tidak berasumsi bahwa ia sedang ada masalah.

Lanjut, ia masuk dan kami sedikit berbincang mengenai film kami. Lapar melanda, kebetulan saja malam minggu jadi kami memutuskan jalan dari kafe hendak mencari makan malam. Trotar Senayan ramai, banget. Seperti biasanya. Seperti biasanya juga, kami jarang berbicara jika tak ada sesuatu yang penting. Itu membuat perjalanan kami tidak jarang hening, benar-benar hening tak ada tukar obrolan apapun dari titik berangkat hingga tujuan.

Baru berjalan beberapa meter dari kafe, aku melihat di kejauhan ada lampu yang biasa aku temui di lokasi syuting. Langsung saja berpikir, oh ini sedang ada syuting. Bunga membenarkan hal itu, ia mengatakan syuting ini berlangsung sejak sore tadi ketika ia berjalan kaki dari stasiun menuju kafe. Aku memanfaatkan kesempatan itu untuk observasi tentang apa-apa saja yang dilakukan orang-orang ini di lokasi syuting, sambil menebak-nebak projek apa yang sedang berlangsung, sekaligus mencari kemungkinan menemukan teman lama barangkali yang pernah satu projek denganku.

Bunga mengatakan ada wajah-wajah familiar yang dilihatnya disana, terutama salah satu kru sound. Aku langsung aja menyisir wajah demi wajah mencari siapapun yang barangkali aku kenal. Ketika sudah melewati keramaian lokasi syuting beberapa meter, seseorang memanggilku, dengan panggilan "we" beberapa kali dengan nada yang keras dan suara yang cukup familiar. Rupanya, Bang Adit dari departemen sound memanggilku. Ia sedang duduk santai sambil menelepon di atas mobil untuk properti. Aku langsung saja menghampirinya, ketika hendak bersalaman, ia langsung melayangkan gestur akan memeluk. Langsung saja aku membalasnya dengan pelukan sambil tepuk-tepuk punggung layaknya orang-orang, hehehe.

Basa basi dimulai, tak lupa aku memperkenalkan Bunga kepadanya. Seperti biasa, orang ini memang banyak bicaranya, banget. Kalau kau punya sifat sepertiku, sudah pasti kau tak akan menemukan celah untuk mulai menceritakan tentang dirimu atau pengalamanmu kepadanya. Karena semua slot sudah diambilnya untuk berbicara mengenai dirinya. Hehe, tidak masalah sih buatku. Seperti biasa aku berperan sebagai pendengar yang baik, dan pelempar pertanyaan-pertanyaan ringan seputar hal yang diceritakannya padaku.

Aku punya penyakit, yaitu penyakit tidak bisa mengakhiri pembicaraan dengan orang lain. Terlebih lagi dengan orang yang seperti Bang Adit ini. Ia banyak sekali, banget, menceritakan tentang pengalaman syutingnya selama ini. Ohya hampir lupa aku mengenalkannya, seorang laki-laki 30an ini pertama kali aku temui di produksi film Target (2018) yang disutradarai oleh Raditya Dika.

Karena merasa tak ada kesempatan untuk mengakhiri pembicaraan ini, aku pun menunggu faktor x yang akan memaksa pembicaraan ini dihentikan. Yaa yang paling dekat ialah, ketika pengambilan gambar akan dimulai.


Tuesday, 12 November 2019

Tak Ada Yang Bahagia di Sutingan Ini, Kecuali Bunga

Tak Ada Yang Bahagia di Sutingan Ini, Kecuali Bunga

Mungkin itu satu-satunya kalimat yang paling tepat untuk menggambarkan proses di balik layar produksi film ini (dan produksi film-film Jaya lainnya).

Di awal semester lalu (semester 6), tepatnya April 2019, saat semua media yang kita ikuti dan gunakan dipenuhi oleh informasi-informasi yang tak pernah lepas dari kata politik. Membuat aku yang tiap harinya selalu berkutat dengan media sosial, ikut kewalahan mengonsumsi segala informasi tersebut. Sempat pulang ke kampung halaman berharap bisa rehat sejenak, tapi media masih menghantui. Remot televisi di rumah ku kuasai untuk sekedar mendapatkan informasi. Racun, hingga menjadi candu, susah rasanya buka sosial media tanpa mengikuti dan mengomentari berita politik.

Mungkin menjadi mahasiswa, khususnya mahasiswa seni, membuatku terpaksa peka, mengikuti, melek, hingga kritis dengan persoalan sosial dan politik di lingkunganku, apalagi tinggal di ibukota. Mau berkarya pun harus terbebani oleh ego dan keinginan untuk menyisipkan isu-isu dan juga kritikan-kritikan pada kebijakan, aparat, pemerintah, instansi, oknum, dll. Padahal di lain sisi, diri ini sadar bahwa cerita tetap bisa dinikmati dan diapresiasi dengan baik, tanpa harus membawa muatan-muatan kritik tersebut.

Sederhananya, film ini menjadi bukti yang bisa merepresentasikan Jaya pada masa itu, masa ketika proses film ini dibuat (berlaku juga untuk film-film Jaya lainnya). Uniknya, ketika film ini berhasil dirampungkan, Jaya sudah sedikit berubah, setidaknya bisa dilihat dari timeline media sosialku, sudah jarang Jaya me-retweet postingan PSI, dan akun-akun berbau politik lainnya.

Rupanya aku tidak bisa berlama-lama menjadi seorang yang melek dengan isu-isu sosial politik dsb tersebut. Atau memang aku tidak bisa berlama-lama menyukai suatu hal/bidang.

Akhirnya aku menyimpulkan bahwa, membuat film adalah sebuah terapi, setidaknya itu berlaku buatku. Membuat film ini seperti detoks alami.

Sedikit trivia, film ini dibuat dalam satu malam, tanpa skenario, yang tertulis hanyalah urutan adegan (treatment). Film ini bisa dibilang merupakan reka ulang dari sebuah kejadian yang benar-benar terjadi. Kompleksitas hubungan kedua karakter kakek di film ini benar-benar terjadi, nyata, dan masih berlangsung hingga sekarang.

Film ini pada awalnya merupakan tumpukan sampah, namun dengan kontemplasi dan tangan dingin Puteri Bunga Melati, film ini jadi berkah. Rasanya butuh satu postingan khusus untuk membahas editing film ini.


Film ini diputarkan pertama kali saat sidang terbuka UTS mata kuliah Penyutradaraan Film Pendek, syukur bisa mendapat respon positif. Hal ini tentu saja diraih karena kerjasama yang baik dari kawan-kawan diantaranya:

Pemain : Jean Marais, Wirman Simago, Jaya Wiguna, Andree Natanegara, Zakiy Musthapa
Produser : Andree Zulkarnain
Sutradara : I Kadek Jaya Wiguna
Penulis : I Kadek Jaya Wiguna, Adinda Junior
Penata Kamera : Zakiy Musthapa (di-hire 2 jam sebelum syuting dimulai)
Perekam Suara : Exelcio Alfa A.J
Editor, Boomer : Puteri Bunga Melati
Production Assistant : Tisya C.C, Ghema Canisya
Equipment : Mars Rental

Film ini hasil kolaborasi FFTV IKJ dengan Kikuk! Films dan Lumut Ijo Production
Dengan bantuan pendanaan dari Eksekutif Produser : I Nengah Kanggo & Ni Nyoman Sri Purnami

Serta bimbingan plus plus di kelas dan setelah editing oleh lord Yandy Laurens

Terima kasih bagi teman-teman yang sudah menonton dan mau memberikan kritik & sarannya.

Astungkara, pada 29 Oktober 2019 saya mendapat kabar bahwa film ini lolos kurasi dan sedang dalam penjurian Festival Film Indonesia 2019 (FFI) untuk diseleksi ke dalam nominasi film cerita pendek terbaik. Saya mohon doa dan dukungan dari teman-teman supaya film ini bisa lolos ke tahap berikutnya.


Sunday, 15 September 2019

Akhirnya, Adsense Kembali!

Setelah penantian yang cukup panjang, sekitar 6 bulan kurang beberapa hari sudah aku nunggu kepastian dari Google/Youtube mengenai monetisasi channel youtube yang aku kelola: Kikuk! Films. Jadi sudah beberapa bulan ini rasanya engga bersemangat buat ngelola channel ini karena ngerasa engga ada target yang terhitung gitu, kalo ada monetisasi dan adsense aktif, rasanya ada target yang ingin dicapai dan ada perhitungan uanganya gitu tiap kita ngerilis sesuatu.

Permasalahannya cukup sederhana, karena aku ngupload sebuah trailer film pendek temen-temen SMA, ternyata video itu memuat musik yang ada hak cipta orang lain punya. Jadi lah adsense nya kembali ditangguhkan.

Masalah ini sudah kedua kalinya terjadi di channelku ini, dengan penyebab yang sama juga. Sungguh, diriku memang kurang belajar dari kesalahan masa lalu. Jadi selama enam bulan ini aku kiranya tiap seminggu ngecek channel untuk liat apakah udah disetujui permohohan untuk aktifin kembali monetisasinya. Statusnya sih tetep sama: Masih ditinjau.

Duh sampai kapan aku harus nungguin.

Udah banyak video tutorial aku liat untuk masalah ini, udah coba kirim feedback ke youtube juga, trus email juga. Di salah satu artikel tutorial gitu, ada seorang yang menceritakan pengalamannya mengajukan kembali monetisasi channelnya yang sebelumnya dinonaktifkan karena pelanggaran hak cipta, disana dikatakan bahwa doi butuh waktu 6 bulan untuk menunggu monetisasi channelnya diaktifkan lagi. Dan ternyata benar, hal itu terjadi juga sama channelku.

Sekarang syukurlah, sudah aktif kembali, sekitar 3 hari yang lalu. Padahal iseng-iseng aja buka channel tanpa ada niatan untuk ngecek hal itu, tapi tiba-tiba ada angka rupiah disana. Oke langsung aku nyimpulin bahwa sudah aktif kembali. Kemudian aku cek, ternyata benar sudah aktif. Aku cek juga di google adsense, oke sudah ngalir lagi duitnya hehehe. Lumayan loo 6 bulan engga aktif rasanya gaji disita gitu sama bos.

Aku berharap setelah kembalinya monetisasi dan penghasilan dari channel ini, semoga aku lebih banyak lagi berkarya, memperluas jaringan, dan semoga konten yang aku buat bisa memberikan impact yang nyata untuk masyarakat.

Friday, 13 September 2019

Magang Day 1 - Sebuah Diary

Jadi ini tulisan yang seharusnya sudah aku tulis beberapa hari yang lalu, bahkan seminggu lebih. Tepatnya selasa minggu lalu, aku datang jauh-jauh dari Jakarta Pusat ke Depok, naik motor. Huft. Padahal sudah sejak lama aku mengidamkan tempat magang yang dekat dengan kosan dan kampus, karena selain magang aku harus mengikuti kelas. Duh dosa lah diriku harus memulai tulisan ini dengan keluhan.

Oke, jadi tepat satu hari sebelum itu aku dihubungi kembali oleh Arli, seorang teman seangkatan di kampus yang sudah sejak lama lebih sibuk di luar kampus untuk membangun karirnya, sampai kuliahnya mungkin sudah tertinggal. Jadi Arli menanyakan kesedianku untuk datang di pagi hari esoknya untuk hunting lokasi projek terbaru kami, sebuah web series.

Jadi beberapa hari sebelum malam itu aku cukup gelisah karena belum mendapatkan tempat untuk magang, karena magang ini wajib dilewati di semester ini, kalau aku mau TA semester depan. Belasan perusahaan film sudah aku email dengan CV dan permohonan magang tapi sampai saat ini belum satupun yang meresponnya. Jadi aku menghubungi Arli, karena aku tau dia pasti selalu jalan projek. Oke beberapa jam menunggu dia pun membalas dengan mengatakan bahwa aku bisa ikut dengannya di projek mendatangnya, yaitu sebuah web series. Langsung saja aku mengiyakan ketika ia menawarkan aku posisi astrada (asisten sutradara).

Oke, kembali lagi ke malam itu. Aku diberitahu bahwa esok hari harus datang ke Depok jam 10 pagi. Oke aku langsung buka google maps untuk mengecek berapa lama waktu dibutuhkan untuk ke Depok. Sialan, jadi sebelum aku buka google maps aku ingat untuk mengeluh karena kenapa sih harus Depok, padahal selama ini aku menghindar dari tempat magang yang jauh dari kos dan juga kampus. Jadi dibutuhkan waktu sekitar 1 jam 30 menit untuk mencapai Depok. Oke aku asumsikan butuh waktu 2 jam, jadi aku harus bangun setengah 8 kemudian bersiap-siap. Masih mengeluh karena tempatnya begitu jauh.

Setelah memberi tau jam dan lokasi temu besok, aku meminta skenario padanya, untuk memastikan bahwa esok hari aku benar-benar siap untuk bertemu tim produksi, terutama pak sutradaranya yang juga merupakan pemilik production house tempat web series yang akan di produksi.

Selama menunggu skenarionya dikirimkan, aku mencari tau tentang production house-nya. Jadi aku nemu akun instagramnya dan langsung stalking dalam beberapa saat. Ternyata ph ini yang memproduksi web serius religi yang biasa di rilis pas bulan ramadhan lalu. Tak lupa juga aku men stalking akun sutradaranya, rupanya tak terlalu menakutkan. Aku juga merasa tidak begitu takut akan bertemunya esok hari, karena sebelumnya udah sempat ikut produksi bersama orang-orang yang sangat religius di produksi film religi, Ayat-Ayat Cinta 2. Jadi asumsiku ialah, orang-orang di dalam produksi ini pasti alim semua, rajin shalat, baik kepada orang-orang baru, baik kepada orang magang yang pastinya.

Ketika skenario dikirimkan, aku langsung membacanya. Dari judulnya saja sudah bisa terbaca ini web series temanya religi. Tikungan Ta'aruf, menjadi judul yang sangat menarik buatku, karena terlihat cukup nyentrik dan tak lupa religius. Jadi kurang lebih ceritanya tentang 2 pasangan ta'aruf, hehe. Selebihnya nanti kita lihat hasilnya di youtube ya.

Jadi aku dikirimkan 2 episode dari skenario, aku kira di produksi ini aku diikutsertakan untuk 2 episode saja. Tapi esoknya ketika ngobrol dengan sutradaranya, doi bilang ada 3 episode.

Oke malam berlalu, pagi aku bangun dengan tidur yang kurang, aku mandi, bersiap-siap untuk perjalanan panjang ke kota Depok. Kali itu aku mulai mengenakan masker, padahal biasanya tidak. Karena aku tau ini akan menjadi perjalanan yang sangat panjang dan membosankan. Aku memasang earphone, sebuah earphone yang suaranya tidak enak di telinga, sebuah earphone yang aku beli beberapa jam sebelum aku berangkat dari Bali ke Jakarta di Badung, karena earphone aku hilang selama kemah di cinemawithoutwall.

Jadi sudah siap untuk berangkat ke Depok?

Ngantuk, ngantuk, ngantuk…

Lagu terus berdendang di earphone-ku, ngantuk pun terus menyerang. Rasanya ingin tidur ketika berhenti di lampu merah. Tapi aku terus menahannya, kendaraan yang sangat ramai karena di pagi hari jam orang-orang pada berangkat kerja membuat aku semakin ngantuk. Sampai lampu merah Depok aku coba mendengar suara-suara, karena sebelumnya aku liat beberapa headline berita di twitter katanya sekarang di lampu merah Depok ada suara walikotanya yang nyanyi. Tapi aku ngga denger suara orang nyanyi, mungkin karena suara kendaraan yang terlalu ramai jadi engga kedengeran, atau mungkin engga semua lampu merahnya ada speakernya.

Jadi ketika sampai di GDC Depok, aku berhenti di indomaret untuk membeli air, tujuannya biar engga ngantuk. Aku cek hp dan buka whatsapp untuk ngabarin Arli kalau aku sudah dekat dengan titik temu. Aku buka kembali maps yang di share doi, beberapa menit di jalan, aku ngelewatin gedung DPRD yang di depannya sedang ada demonstrasi yang sepi banget, tapi ada beberapa kata yang aku perhatiin dari demonstran tersebut, seperti kata Jokowi, dll.

Oke aku skip cerita kelewatan belokannya. Jadi singkat cerita aku sampai di sebuah tempat yang namany Apace Archery. Ternyata di tempat ini ada lapangan untuk panahan. Aku menghubungi Umank Ady, sutradara sekaligus orang yang akan menemuiku karena Arli belum sampai di lokasi. Aku dijemput doi di parkiran, aku pura-pura main HP dan tidak melihatnya, takut salah orang jadi biarkan doi yang manggil aku duluan hehe.

Aku masuk ke sebuah ruangan, disana ada 1 orang lagi yang sedang main laptop, nanti kita tau bahwa doi penulis, sekaligus editor (?) pokoknya doi tandemannya si pak sutradara ini sepertinya. Jadi aku dikenalin, lalu aku dibriefing beberapa hal mengenai pengadeganan, lalu aku minta skrip untuk kubaca, rupanya sampai 3 episode nih web seriesnya, tapi Arli baru ngasi sampai episode 2 saja. Oke jadi aku membacanya ulang dari awal. Di tengah-tengah aku baca, datanglah Arli dan 1 orang lagi, rupanya 1 orang lagi itu Rama, seorang teman seangkatan di kampus, teman yang sempat ku bahas di postingan aku sebelumnya. Aku cukup kaget melihat ada sosok Rama, aku sudah menebak langsung pasti dia akan pegang posisi sebagai sinematografer dari projek ini, mengingat dia cukup sering bekerja dengan Arli.

Oke beberapa basa-basi berlangsung, kemudian kami berangkat untuk makan siang kemudian hunting lokasi. Jadi ruangan tadi akan menjadi basecamp kami selama produksi ini. Aku masih berpikir, duh jauh juga harus ke Depok terus nih demi magang.

Makan siang di ayam gembus yang banyak kucing gangguin selesai, kita berangkat ke sebuah komplek cluster gitu, lalu berhenti di sebuah masjib. Kita masuk, mereka akan sholat Dzuhur aku pun menunggu di luar. Tanpa harus minta izin menunggu di luar, nampaknya pak sutradara sudah paham bahwa aku non muslim. Oke singkat cerita hunting di masjid itu, kemudian menuju sebuah rumah di pinggir kali, lalu berjalan ke pinggir kali, ke sebuah jembatan merah yang cukup menarik yang membentang di atas kali itu. Oh ya, funfact, kali di Depok engga sekotor di Jakarta ya.

Hunting di kali ditemani seorang ibu-ibu berljibab yang membawa fortuner seorang diri. Nampaknya doi sanak familinya si sutradara. Kami diantarkan ke lokasi-lokasi lain yang di request sama pak sutradara. Sampai di sebuah yayasan Al-Azhar, kita datang ke sebuah tribun lapangan olahraga yayasan tersebut. Disana kita liat si ibu ini cukup dikenal oleh staf-staf dan juga orang dewasa disana. Oke aku langsung berpikir, pasti ibu ini orang yang cukup penting di Depok.

Hunting terakhir kita ke sebuah tikungan jalan (seperti judul web series-nya), tapi saya, Arli dan Rama sempat nyangkut di tikungan yang lain karena kita tertarik dengan tukang cincau yang lewat. Rama memutuskan untuk memanggil tukang cincau tersebut karena ibu tadi memberikan isyarat dengan tangan kanannya menunjukkan lokasi tujuan kita ada di depan mata. Karena itulah kita bertiga akhirnya memesan es cincau, kita meminumnya dengan santai sebelum akhirnya seorang dari kru kami datang dengan sepeda motor dan memanggil mengingatkan bahwa lokasi masih di depan. Sebelumnya kita kira mereka tertinggal, rupanya mereka sudah jauh di depan kita dan sampai di lokasi. Kita bertiga memutuskan untuk meminum cincau itu dengan kilat. Cukup segar di cuaca yang sangat panas di kota Depok ini, tapi cukup sayang dihabiskan dengan terburu-buru.

Cuss kami berangkat ke lokasi terakhir, disana kami melihat sutradara dan yang lainnya sudah selesai dengan melihat-lihat lokasinya, aku merasa sedikit bersalah karena terlambat hanya karena makanan. Sungguh perbuatan yang sangat memalukan jika ini terjadi lagi projek yang lebih besar, untung saja sutradaranya baik hati. Oke karena sudah selesai melihat-lihat lokasi. Rama, Arli dan aku pun memotret lokasi itu, kemudian kami langsung berangkat untuk kembali ke basecamp kami di Apace.

Di perjalanan kami berhenti di penjual es kelapa. Aduh baru saja aku beli cincau, pakai gula merah. Sekarang aku engga mungkin nolak es kelapa pakai gula merah, karena gratis. Oke sudah sangat kembung rasanya perut ini, kita kembali ke Apace.

Sampai di basecamp, aku tiduran di lantai, begitu juga yang lainnya. Kami semua tampak kelelahan, lebih lelah karena cuaca panas ini mungkin. Sutradaranya cuci kaki dan wudhu, kemudian yang lain mengikutinya, mereka pun melaksanakan shalat Ashar berjamaah. Aku masih tiduran, beberapa kali sempat benar-benar tertidur, karena kebanyakan minum gula nampaknya. Sudah kuduga produksi ini pasti akan menjadi produksi Ayat-Ayat Cinta versi kecil.

Setelah shalat, kami meeting untuk membahas skenario, lokasi, golden scene, pengadeganan, shot, dan bayak hal lain dibahas dengan cukup santai. Kami duduk di depan sebuah coffee shop yang memang berada 1 pekarangan dengan basecamp kami. Tempat itu sangat sepi, bahkan sampai baristanya pun tak ada. Jadi kami diminta untuk mengambil minuman sendiri semau kami. Aku mengambil air putih dengan merk OKE OCE, hmm menarik.

Sekitar sejam meeting berlangsung aku merasa sangat ngantuk, bisa dipastikan 50% pembicaraan mereka tidak aku simak dengan baik. Aku rasa karena kebanyakan minum gula aren kali ini. Air putihku sudah sampai habis tapi tak kunjung buat aku terjaga dan fokus. Beberapa puluh menit sebelum meeting berakhir aku menjadi cukup fokus, dan sempat berbicara beberapa hal. Sempat kaget juga karena sekali si sutradara menanyakan aku tentang cerita dan skenarionya. Dia menanyakan pendapatku mengenai ceritanya, aku hanya menjawab "Bagus," sebuah jawaban yang cukup aman, tapi terlalu sering dipakai untuk mencari aman. Ingin rasanya menjawab dan memberikan pendapat lebih yang bersifat memuji, tapi aku engga menemukan kata-kata yang tepat untuk itu.

Hmm panjang juga ceritanya, padahal banyak bagian yang di skip. Oke sampai baris ini, aku menyedot sisa dari es kopi susuku yang rasanya sudah terlalu banyak esnya. Masih di familymart, 1 pria 50 tahunan di sampingku udah pergi beberapa puluh menit yang lalu nampaknya karena tidak nyaman untuk tidur di meja familymart.

Selesai meeting, kami siap-siap untuk pulang ke rumah masing-masing. Di perjalanan, aku merasakan ngantuk yang luar biasa. Tapi niat untuk berhenti sejenak dan istirahat cukup kecil, jadi aku terus aja memacu motorku. Padahal hal ini udah sering terjadi, harusnya aku berhenti istirahat di suatu SPBU atau minimarket, tapi tak tau lah. Mungkin aku terlalu bersemangat karena aku sudah berjanji malam itu jam 9 bunga bakal nemenin aku nonton filmnya Tarantino yang baru.

Aku rasa cerita magang hari pertama cukup sampai disini. Pelajaran yang paling aku dapat dari hari itu adalah: Tuhan tau yang kita butuhkan, mungkin aku menginginkan tempat magang yang keren, bertemu orang-orang keren di industri film, tempat magang yang deket dengan kosan. Tapi semuanya berbeda kali ini, aku terlibat di sebuah produksi yang terbilang cukup kecil, karena nampaknya kedepannya produksi ini akan digarap dengan kru kecil, 3 episode hanya digarap dalam 2 hari, peralatan minim, aku perikirakan produksinya dalam skala akan lebih kecil dibandingkan produksi-produksi yang pernah aku ikuti, entah itu produksi film panjang bioskop, ataupun film pendek untuk tugas di kampus pun rasanya lebih besar dan heboh lagi. Mungkin, Tuhan tau kemampuan bersosialisasiku sangat minim, jadi aku ditempatkan di tempat yang tidak terlalu besar dengan orang yang banyak. Tuhan tau bahwa aku pasti akan menjadi orang yang sangat-sangat canggung jika aku harus bertemu dengan aktor, sutradara, dan juga pelaku industri arus utama yang sudah mempunyai nama dan posisi di industri. Tuhan mengajak aku untuk tidak lagi meremehkan hal-hal kecil, produksi-produksi kecil, karena besar-kecil sebuah produksi, kita tak pernah tau yang mana akan melahirkan impact yang lebih besar di masyarakat. Tuhan mengajak aku untuk melirik industri lain yang mungkin belum pernah terpikir olehku, belum pernah aku coba, belum pernah aku tau bagaimana sistem di dalamnya bekerja. Yang terpenting disini ialah aku harus tetap menggali lebih banyak lagi pelajaran, meskipun dengan hari pertama magang ini aku merasa cukup meremehkan produksi ini, sehingga aku tidak bekerja cukup maksimal.

Aku belajar untuk selalu berpikir positif, sedikit banyaknya ilmu yang kita dapat berasal dari sedikit banyaknya kita mencari dan menggali. Itu hal yang baru aku sadari malam ini, setelah beberapa hari terakhir berpikir untuk mencari tempat magang lain, karena memprediksi di tempat magang kali ini sepertinya aku tidak akan mendapatkan banyak pengetahuan baru.

Suatu Malam di FamilyMart

Baru saja, sekitar 10 menit yang lalu aku berada di titik kebimbanganku ketika harus memilih: Harus beli pop mie, atau es kopi susu? Pasalnya, aku rasa malam ini ialah malam ketika aku merasa ketan susu kemayoran tidak enak, atau mungkin saja moodku sedang tidak enak, jadinya ada perasaan ingin cepat meninggalkan tempat itu. Sebelum meninggalkannya, aku berpikir untuk membeli pop mie setelah ketan yang tidak terlalu memuaskanku. Akhirnya aku pun meninggalkan tansu kemayoran, tapi sebelum itu sempat merasa sedikit kesal karena biasanya aku bayar 8ribu untuk seporsi ketan, 3 gorengan dan 1 teh tawar. Tapi kali ini aku harus mengulangnya, karena tiba-tiba si bapak yang melayaniku mengatakan jumlahnya 14ribu. Pada akhirnya aku dikenai 9 ribu untuk menu yang biasanya aku bayar senilai 8 ribu. Padahal perhitunganku udah cukup matang untuk menyisakan 2 ribu dari uang pecahan 10 ribu supaya 2 ribu itu bisa dipakai untuk bayar parkir, eh tiba-tiba lagi ini tukang parkir mentang-mentang aku kasi uang pecahan 20 ribu, dikasi kembalian 17 ribu saja. Huft, maaf akhir-akhir ini aku jadi lebih perhitungan soal uang, soalnya beberapa hari yang lalu aku memutuskan untuk hidup lebih hemat, terutama menghemat uang jajan dan uang untuk kopi. Kopi yang biasanya sehari sempat saja aku memesan es kopi susu senilai 12 ribu di family mart, kini aku beli kopi bubuk kapal api biar hemat.

Oke, jadi rencanaku malam ini ialah menghabiskan malam di ketan susu lalu ke family mart. Karena merasa kenyang ketika berada di depan pintu family mart, aku pun memutuskan (dalam beberapa menit) untuk memesan es kopi susu. Oke jadi malam ini habis 24 ribu, sisa jatah harianku masih 6 ribu, dari 50 ribu per hari.

Jadi aku menulis ini di meja family mart, menjelang jam 3 pagi, dengan 2 orang di samping kananku. Satu orang yang sudah cukup berumur, mungkin 50-an, kurus dan memakai peci, ia mencoba tidur di meja beralaskan kedua lengannya, tapi nampaknya suasana yang amat nyaman di family mart ini tidak bisa mengantarkannya pada tidur yang diinginkannya. Di sebelah kanannya lagi ada seorang pria (?) barangkali, sampai saat ini aku belum bisa memastikannya dia seorang pria atau wanita, ia berumur sekitar 30-an, dengan badan yang cukup besar, dan berambut panjang, mungkin ia seorang waria. Yang jelas, orang ini sudah beberapa kali bergumam menyanyikan lagu yang terdengar di speaker family mart, semuanya lagu barat, tak banyak yang aku tau mengenai lagunya, tapi orang itu nampaknya cukup mengenal lagu-lagunya.

Kedua orang ini nampaknya sudah saling kenal, sebelum aku sampai di tempat ini. Ohya, aku ingat ada hal yang cukup lucu bagiku beberapa saat yang lalu. Ketika mulai menulis ini, seorang kasir yang tadi melayaniku tiba-tiba memanggilku dan menanyakan "Mas, maaf mau nanya, tadi sudah kedengeran ini bunyi belum?" Saya cukup bingung, dan blank untuk beberapa saat. Ia menunjuk ke semacam mesin untuk membuat kue atau semacamnya. Aku rasa belum mendengarnya sejak tadi. "Iya, bunyi tiiiit, gitu mas" Jadi dengan cukup ragu aku mengatakan bahwa belum mendengarnya sejak tadi, dan tak lupa meminta maaf karena aku tak sempat memperhatikan hal itu.

Aku sebenarnya cukup bingung dengan apa yang harus aku ceritakan di postinganku kali ini. Yang pasti aku menuliskan ini semua di Ms. OneNote, karena ternyata tak ada koneksi internet disini. Ada sih beberapa wifi tapi nampaknya bukan untuk publik, terlihat dari nama-nama wifinya, di samping karena aku malas juga harus menanyakan ke kasirnya. Lagipula malam ini aku memang merencanakan untuk offline dan menulis sesuatu.

Tujuan pertamanya sih untuk mencari inspirasi untuk menulis film misalnya, karena begitu banyak lomba dan juga festival film dalam waktu dekat, dan aku belum mempersiapkan apapun untuk hal itu. Karena ini kesempatan yang tak boleh dilewatkan, sudah banyak sekali deadline lomba yang aku lewatkan begitu saja, padahal hadiahnya lumayan semua.

Aku merasa cukup heran. Saat ini lomba dan juga festival film jumlahnya sudah banyak sekali, tak terhitung. Tiap bulannya pasti ada deadline lomba, yang hadiahnya pun tak sedikit. Mungkin pada latah, banyak lembaga yang bikin lomba film dengan tema-tema tertentu, dengan hadiah berlimpah, apalagi festival yang diadain sama lembaga/instansi pemerintah. Duh, liat angkanya tuh jadi tergiur. Jadi biasanya aku langsung aja ngesave pamflet lombanya, tapi seringkali hanya di save tapi engga diseriusin.

Bingung mau nulis apalagi deh. Jadi beberapa kalimat terakhir ini aku ketik dengan coba mulai belajar ngetik pake 10 jari. Karena selama ini setengah dari jumlah jariku nganggur kalo lagi ngetik. Susah juga ya, padahal udah dari SMP belajar, sampai jadi salah satu materi di mata pelajaran TIK-nya Pak Aribawa. Duh jadi kangen SMP kan.

Tuesday, 10 September 2019

Sebuah Ulasan Setelah Menonton Spring, Summer, Fall, Winter... and Spring (2003)

Ulasan ini merupakan salinan dari akun letterboxd-ku: letterboxd.com/jayawiguna

Menonton film ini sambil tiduran, dan berkali-kali berganti posisi duduk-tiduran.

Filmnya bisa dibilang sangat kontemplatif, sangat minim bacot, sekalinya bacot langsung jadi kuot. Karena memang latar belakangnya seorang biksu, yaa jadinya masuk akal aja sedikit bacot, banyak bersabar dan memaafkan, dan yang keluar dari mulutnya hanyalah kata-kata mutiara.

Ceritanya bagiku sangatlah sederhana, latar belakang karakternya yang membuat ini menjadi sangat sulit. Awalnya aku berharap ceritanya engga mengarah ke perzinahan dan urusan birahi. Sampai-sampai, ketika si biksu muda mau ngewe beberapa kali nih aku kesel parah, udah lah lu goblok amat sii, sange terus juga..

Eh wait, aku sama sekali ngga sadar kalau si biksu ketika dewasa diperankan si pak sut sendiri, wuadaw.

Siklus kehidupan, itu mungkin yang menjadi garis besar dari film ini, mungkin yaa, sejauh yang aku pahami.

Banyak scene yang keren sih yaa, aku paling suka pas si kakek biksu nulis aksara di lantai pakai ekor kucing, itu nyeni banget, dan hasilnya juga keren parah. Trus sampai sekarang masih wondering apa arti aksara di kertas yang dipakai bunuh diri itu.

Suka juga ketika rumah apungnya perlahan bergerak, ntah tak tau maknanya apa tapi keren aja gitu. Trus ayam yang dipake narik perahu keren juga tuh haha, baru di film ini aku liat. Pokoknya banyak banget hal baru yang bisa ditemuin di film ini.

Pokoknya sebuah sinematik eksperiens yang aneh, tapi menenangkan. Beda sama midsommar yang aneh trus disturbing.

di:
#IndoXXI

Sebuah Ulasan Setelah Menonton Punch Drunk Love (2002)

Ulasan ini merupakan salinan dari akun letterboxd-ku: letterboxd.com/jayawiguna

Suka sekali....
Sebagai orang yang punya masalah kecanggungan sosial yang cukup tinggi, aku bisa relate dengan film ini, yang berbeda hanya aku orangnya slow abis, engga punya masalah kecemasan yang berlebihan seperti si Barry.

Dalam sejam lebih bener-bener berasa ada di dunianya si Barry, awalnya berasa mengganggu banget scoringnya, trus ni orang engga bisa diem tenang apa hehe. Tapi nyaman begitu aja ketika asik ngikutin ceritanya.

Aku suka hal-hal random di awal film kayak tabrakan mobil, trus ada orang nurunin harmonium, trus ada truk kontainer panjang, dsb. Entah kenapa suka aja meskipun engga ada niat nyari tau lebih jauh apa makna sebetulnya.

Aku tuh takut kalo nanti terlalu banyak diem di kamar, atau terlalu sibuk kerja, mikir keras, sampai lupa liburan, lupa piknik trus jadi kayak si Barry, huhuhu.

Oke, udah.

di:
#YIFY

Friday, 6 September 2019

Sebuah Ulasan Setelah Menonton The Squid and the Whale (2005)

Ulasan ini merupakan salinan dari akun letterboxd-ku: letterboxd.com/jayawiguna

Yang paling aku suka dari cerita-cerita seperti ini ialah, gimana binatang peliharaan juga menjadi suatu yang sangat penting untuk diperhitungkan nasib kedepannya yaa, jadi ngga cuma soal anak..

Sampai sekarang masih kaget aja dengan karakter Walt yang sebenarnya engga sepintar yang kita kira sebelumnya (?). Sebenernya dari cara dia ngejiplak lagu pink floyd aja harusnya udah bisa disimpulin ini orang sebenarnya kayak gimana, tapi film ini bisa cukup meyakinkan kita dengan Walt, padahal dia engga seperti itu.

Masih heran aja sii sama anak-anak sekolahan dan ortunya yang phd yang pada ngga tau lagunya pink floyd, kalo anak sekolahan menurut aku mungkin terjadi sih, karena aku sendiri juga tau baru tau sma menuju kuliah. Atau mungkin aja ada maksud sarkas. Tapi yang paling kusuka ialah bagaimana para ortu mengapresiasi bakat anaknya, menanyakan minat anaknya, meskipun disini lebih ke mengarahkan minat si frank karena masalah personal dan sifat ayah yang sangat pretensius dan ambisius.

Aku pikir gaya parenting si bapak berakibat bagus ke si walt, tapi justru menghasilkan walt yang seperti itu. Kalau mau cari siapa yang salah, semuanya juga salah yaa, semua karakternya dibuat abu-abu, jadi baik buruk perilakunya semua ada alasan yang kuat.

Jadi takut juga nyari calon istri se-profesi. Kurang lebih lalo kata Oka Rusmini, dua orang penulis yang menikah bisa saja saling berebut kata- kata di bawah tempat tidur mereka.

Film yang cukup sederhana, tapi referensinya lumayan berat dan beberapa engga aku tau. Jadi tau istilah philistines, mungkin aku seorang philistines juga..

Liat judul film ini aku jadi asosiasiin sama squidward sama pearl krabs deh.

Nonton film ini karena sempet di mention sama zhafran di kelas penyutradaraan film panjang. Katanya sih film-filmnya Noah mengajarkan banyak hal tentang identifikasi karakter. Oke, aku harus nonton film-film doi yg lain.

Together we stand, divided we fall

di:
#YIFY

Thursday, 5 September 2019

Anak Perempuan Ngga Boleh Nangis!

Sudah masuk hari ketiga semenjak aku merencanakan untuk kembali menuliskan sesuatu di blog ini, ingin menceritakan pengalaman hari pertama magangku di semester 7 ini. Tapi sebelum menceritakan hal itu, tepat sekali malam tadi, sehari sebelum hari ini (karena aku menulis tengah malam lewat jam 12), aku mendapatkan satu peristiwa yang benar-benar membuat aku berpikir, mencoba mengingat kembali apa saja yang sudah aku lakukan selama ini, benar-benar mengevalusasi setidaknya hal-hal yang masih aku ingat.

Mungkin di postingan yang lain aku sempet menyebut nama Bunga, iya.

Sedikit kilas balik, jadi dia temen baik aku semenjak beberapa semester terakhir, meskipun sudah kenal dari semester 1 di kampus, tapi kita baru benar-benar menjadi kawan baik semenjak kita membuat film bareng di semester 5, dan karena kita membuat film di Bali, jadi dia otomatis nginep di rumah aku, bersama Andree juga, temen baiknya Bunga, mungkin belahan jiwanya kali yaa. Soalnya sempat ada istilah di kampus, dimana ada Andree, disana pasti ada Bunga, begitu juga sebaliknya. Karena mereka benar-benar selalu berdua, kemanapun, akupun heran kenapa ada orang kayak gitu, setidaknya sebelum akhirnya kami memutuskan major (peminatan) masing-masing di kampus. Jadi di fftv ikj tuh ketika minimal semester 5, dan sudah lulus praktika/praktikum, kita sudah bisa memilih peminatan sesuai dengan profesi yang kita minati di dunia perfilman nanti.
Jadi singkat cerita, karena mereka berdua mengambil peminatan yang berbeda, otomatis banyak mata kuliah mereka yang tidak sama lagi, berbeda dengan waktu semester 4 ke bawah. Sehingga frekuensi kita melihat mereka jalan berdua di kampus pun berkurang, tapi bukan berarti mereka menjauh sih, tetep aja pas jam istirahat pasti kita lihat mereka kemana-mana berdua. Cuma ada di beberapa waktu mereka going solo.
Semester 5 aku ngajak mereka untuk bantuin syuting tugas penyutradaraan pemain 1 di Bali, di kampungku, karena sebelum waktu itu tiba, mereka berdua ngajakin aku untuk menjadi satu kelompok di projek tugas akhir nanti. Jadi aku nganggep mungkin mereka mau mengiyakan ngebantuin aku syuting di Bali ini untuk bisa lebih kenala lagi sama aku, lebih kenal dan ngerti gimana cara kerjaku sebagai sutradara, di samping kita memang berencana melakukan riset untuk mencari ide cerita untuk projek tugas akhir nanti, meskipun pada akhirnya engga nemuin satupun.
Mulai dari sana kami saling dekat, aku mulai masuk lingkaran pertemanan mereka berdua, bahkan sampai sering curhat, bercanda yang engga pernah aku lakuin ke temen yang lain, kecuali emang temen yang aku anggap bener-bener temen deket, dan jumlahnya dikit, hampir ngga ada deh.

Kilas balik lagi, dulu waktu SMA aku punya temen namanya Dhanan, dia temen aku dari kelas 10 sampai lulus, bahkan sampai sekarang dan kuharap kita bisa sukses bareng di jalan yang kita suka. Oke jadi si Dhanan ini temen sebangku aku dari kelas 10 sampai kelas 11, niatnya sih sampai kelas 12, cuma pas kelas 12 punya wali kelas yang cukup rese tapi baik, doi minta kami mengacak dan menukar teman sebangku, bahkan kalau bisa tak terbatas gender. Jadi aku dan Dhanan dipisahkan kala itu, cuma kami masih cukup berdekatan, aku di bangku ke-2, dhanan ada di depan aku sama temen perempuan, aku juga sama dengan temen perempuan, jadi kami masih bisa saling bercanda karena berdeketan. 
Kelas 10 sampai kelas 11 kami selalu duduk di bangku belakang, entah kenapa seru aja, aku suka pandangan yang lebih luas kalau di belakang, cuma kuping harus lebih sensitif aja sih. Selain karena Dhanan suka dan sering banget main hp, khususnya main instagram, snapchat dan game di hpnya kalo udah bosen sama materi di kelas.
Jadi aku sering banget candain dia dengan candaan yang tak biasa tentunya, kayak cubit lengennya, pukul-pukul lengennya, coret-coret buku tulis dan buku pelajarannya, ambil trus sembunyiin hpnya, sampai sempet pas dia ulang tahun, bahkan engga ulang tahun pun kami temen sekelasnya sering ngerjain dia habis-habisan sampai dia kecapean, mukanya merah dan marah. Paling inget kalau dia udah marah tuh pasti dia langsung duduk nunduk main hp,  SELALU MAIN HP. 
Nah yang paling aku suka dari Dhanan ini ialah: Sekeras apapun kita candain dia, sekelewat batas apapun kita (tentunya batas definisiku yaa), dia ujung-ujungnya setelah ngambek beberapa menit, pasti senyum-senyum dan ketawa lagi. Ini selalu terjadi, berulang kali, hampir tiap hari aku nyandain dia bahkan bikin dia kesel. Cuma yaa gitu, dia digodain dikit langsung senyum dan ketawa lagi. Aku juga heran kenapa ada orang kayak gitu. Hehe makanya aku suka, duh jadi kangen Dhanan (padahal kalo udah ketemu pasti saling canggung). 
Pernah waktu aku ajak Dhanan produksi film di desaku, aku ajak dia bersama temen-temen ke pemandian air panas, seperti biasa Dhanan selalu nyetir karena dia yang punya mobil, hehe. Dia ngotot engga mau nganterin karena kata dia pasti sudah tutup karena sudah malam. Dia ngoceh terus, wajahnya pun seolah kesal, tapi karena kita rame-rame godain, dia tetep aja nganterin dan mau ikut ke pemandian air panas malem-malem, padahal besoknya masih ada syuting. Tapi tetep aja gitu, di perjalanan dia ngomel-ngomel mulu, solusinya yaa kita candain sampai dia ketawa lagi. 
Pernah juga suatu saat aku candain dia terus, aku lupa persis kejadiannya, kalo ngga salah aku ngambil hpnya dia pas lagi main game serius-seriusnya. Aku bawa kabur, trus dia kesel dan marah tuh. Nantinya dia niat balas dendam tuh, aku lagi main laptop pake laptop acer-ku yang butut. Dia marah nutup layar laptopku kenceng pas tanganku masih ada di atas keyboard sampai engga disengaja layar laptopku pecah lumayan parah. 
Dia minta maaf terus sama aku, tapi aku bilang tak apa, bahkan dia niat mau gantiin biaya servisnya. Tapi aku justru bilang ini pertanda bagus, jadi aku bisa minta beliin laptop baru sama orang tua, pas banget waktu itu aku ngidam-ngidamnya banget pengen beli macbook. Akhirnya kebeli juga macbook dengan bantuan alasan laptop yang udah rusak.
Oke aku rasa udah kebanyakan kilas baliknya nih. Jadi yang mau aku ceritain adalah tentang kebiasaanku bercanda yang selalu berlebihan. Aku orangnya sangat gemes dan juga sering becandanya dengan fisik gitu, terutama ke orang-orang terdekatku. Contohnya tadi Dhanan tuh, ibuku juga sering aku cubit-cubit, aku pukul-pukul, trus dipeluk-peluk kenceng, pokoknya gemes banget, apalagi sama keponakan-keponakan yang masih kecil. Hati-hati dah sama Jaya.

Sering banget aku engga bisa kontrol kegemesanku itu, engga bisa ngontrol seberapa dan kapan aku harus bercanda. Sejauh ini aku ngerasa aku jarang kelewatan batas sih kalau bercanda, setidaknya itu menurut pandangan aku sendiri. Engga tau bagaimana orang lain mengukurnya.

Hari ini kejadian lah akibat dari kebiasaan aku itu. Bisa dibilang mungkin aku hampir kehilangan temen baik aku, (pengen bilang sahabat, tapi kami engga pernah mendeklarasikan diri sebagai sahabat) gara-gara aku yang kelewat batas, menurutku.

Hari ini aku main ke kosan Bunga untuk ngajakin makan siang, karena makan siang di kampus udah terlalu mainstream dan terlalu overload kantinnya, di samping males juga jadi minoritas di kampus udah jadi mahasiswa senior. Nah setelah makan siang aku ke kampus lagi untuk masuk kelas. Kembali setelah kelas aku ke kosan Bunga untuk main.

Aku ngga tau mau ngapain, pengen main aja, Bunga pun sebetulnya sedang ada kewajiban untuk ngedit trailer dari projek film pendek kami. Tapi Bunga ngajakin baca buku, buku yang udah kita sepakati untuk dibaca untuk persiapan sidang, dan yang paling penting untuk memahami film lebih dalam lagi.

Baca buku berjalan cukup normal, aku sering becanda, dari cubit dia, mainin rambutnya, pokoknya sesuatu yang bikin dia agak kesel (?) mungkin, aku tau tapi aku tetep ngelakuin hehe, maaf yaa. Beberapa saat kita bosen baca, yaa dengerin musik, dan hal-hal lainnya. Lalu kami lanjut baca, sampai kita berdebat mengenai siapa orang yang pertama kali menemukan film. Nah dari sana kita browsing, beberapa saat masih debat sambil browsing, aku ngambil pulpen yang dari tadi dia pake buat nyatet, aku coretin di pipinya, dan engga ada bekas coretan karena pulpennya udah sedikit macet gitu. Trus di mau rebut pulpennya lah dari aku, sampai kita rebutan pulpen terus. Dia nyerah, lalu aku nyoret pipi sebelahnya lagi, dan sama tak ada bekas. Lalu dia lebih bersikeras lagi merebut pulpennya, aku ngga mau dong pulpennya ada di tangan dia, karena ntar dia balas coret muka aku.

Semuanya aku lakuin demi bercanda, tak lebih. Cukup lama kami berebut pulpen, sampai tutupnya kelempar jauh. Trus aku akhirnya nyembunyiin pulpennya di bawaha kasur. Dia terus nyari pulpennya, minta ke aku, narik-narik tangan aku, dsb. Tapi aku ngga kunjung ngasi pulpennya. Beberapa menit, mungkin sampai 10 menitan lebih dia bersikeras dengan pulpennya, sampai beberapa saat tiba-tiba dia melemas, tangannya yang aku pegang engga lagi meminta pulpennya. Trus Bunga tiba-tiba beranjak dari duduknya menuju ke kursi depan laptop. Dia tiba-tiba buka kembali projek trailer yang sedang dikerjakannya.

Bunga diam, hening.

Aku bingung, sudah kupastikan pasti dia kesal dan marah. Langsung aku ambil pulpennya di bawah kasur, ambil tutupnya, lalu kasi ke dia.

Bunga tetap hening.

Aku minta maaf ke bunga, aku sentuh bahunya, tangannya untuk minta maaf. Beberapa saat kemudian dia seperti menahan sesuatu, tangannya yang ada di atas laptop sedikit bergetar, begitu juga dengan wajahnya. Aku pun semakin merasa bersalah sama apa yang udah aku lakuin. Tiba-tiba air mengalir jatuh dari mata sebelah kanannya, karena yang bisa ku lihat hanya sebelah kanan wajahnya. Aku semakin merasa bersalah, terus meminta maaf, lalu aku mengambil tisu yang digantung di gantungan di tembok samping lemarinya. Aku mau ngusapin air matanya, dia tetep fokus ke laptopnya, memutar film pendek kami untuk dicari titip menarik untuk dijadikan trailer. Dia ngga mau diusap air matanya, aku naruh tisunya di depannya.

Aku bingung, jujur bingung banget. Karena ini orang beda banget, engga kayak perempuan lain kalo nangis. Aku sempet nanganin beberapa perempuan yang berbeda ketika nangis, dan kurang lebih formulanya sama. Sedangkan Bunga, sejak awal aku kenal dia udah jadi perempuan yang beda. Banyak orang bilang Bunga mirip laki-laki, karena penampilannya, sampai orang asing pun sering mengira dia laki-laki dengan manggil dia 'mas', seperti yang sering ia ceritakan.

Aku bener-bener engga nyangka tadi bisa sampai segitu. Bener-bener belum percaya. Apa yang aku lakuin memang bener-bener kelewatan, setidaknya untuk ukuran manusia bernama Bunga. Mungkin aja sebelumnya aku nganggap itu hal sepele banget, cuma soal pulpen yang disembunyiin. Kalau itu yang aku lakuin ke Dhanan, atau orang yang lain, mungkin bakal cuek aja.

Setelah itu aku bener-bener langsung kayak evaluasi lagi, apa aja yang udah aku lakuin Bunga selama ini, yang kemungkinan besar udah bikin dia kesal dan marah ke gue, cuma belum sampai kayak tadi aja. Kepala aku mengulang lagi kejadian-kejadian, di setiap aku ketemu Bunga, pasti selalu aku candain. Kayaknya engga pernah engga deh.

Aku masih bingung, sampai aku bener-bener hati-hati untuk milih kata buat nenangin dia waktu nangis. Air matanya turun beberapa kali setelah diusap. Kepalanya bergetar, mungkin karena menahan suara tangisannya. Tapi bener-bener mata ngga bisa bohong, air mata jatuh. Aku bingung.

Aku bingung.

Aku nawarin dia bubble tea, duh sungguh penawaran yang goblok sih yaa.
Aku sempat mencari-cari sesuatu yang pas di grabfood, trus ketemu chatime, pas mau order, dia bilang mau pulang aja ke rumah, siangnya dia udah bilang sih mau pulang ketika malam. Nah aku mikir lah, yaudah aku anterin dia sampai rumah aja yaa. Tapi aku berpikir juga, mungkin itu bikin dia makin kesel karena masih sama gue dalam waktu yang lumayan lama di perjalanan. Mungkin kasi dia waktu untuk menyendiri, lebih baik.

Jadi dia mau dianterin sampai di jalan raya saja, di dekat sana ada halte, dia bilang makasi, lalu menepuk pundakku beberapa kali lalu pergi jauh.

Aku masih bingung harus bereaksi seperti apa. Selama ini aku engga pernah menganggap Bunga ialah orang yang cukup sentimentil. Selain karena penampilannya, cara dia berinteraksi juga engga mencerminkan dia tipikal orang yang bisa nangis karena teman. Sebelumnya dia sering nyeletuk malem-malem "ini jam-jamnya gue nangis nih biasanya", aku yaa pasti nganggep itu sebagai candaan aja kan yaa, ah masa sih Bunga nangis gitu.

Sampai di kosan aku langsung chat Andree untuk mencari solusi dari orang yang lebih berpengalaman dengan Bunga. Hehe, aku masih bingung harus ngapain. Mungkin hari ini aku engga hubungi dia dulu, sehari mungkin cukup untuk nenangin diri. Besok aku hubungi dia lagi, semoga aku bisa introspeksi diri.

Aku ngga yakin bisa berhenti candain orang, terutama orang terdekat aku. It's my pleasure, terkesan egois sih. Setelah ini aku berusaha mengurangin bercanda, berpikir dan menimbang lebih banyak sebelum bercanda.


Salam

Monday, 2 September 2019

Kejutan di Hari Pertama Semester 7

Oke, pagi ini diawali dengan aku masih tertidur pulas kemudian dibangunkan oleh jam weker seiko warna biru muda pemberian bapakku ketika ulang tahunku yang 17. Satu-satunya alarm yang bisa membangunkan aku disaat jauh dari kedua orang tua. Oke jadi kepikiran, semoga lain kali aku bisa menuliskan cerita tentang jam weker itu.

1. The Email
Setelah bangun, seperti biasa aku mencuci muka, hmm mencuci kedua mataku lebih tepatnya, dengan air keran di toilet kosku yang paling indah, hehe. Setelah cuci mata, seperti biasa aku merebahkan diri untuk menenangkan diri sebelum benar-benar beraktivitas. Aku mengambil hp yang sedang di charge, kemudian mengecek notification, ada beberapa email yang masuk, satu email yang cukup penting dari seorang editor/videografer dari Pakistan kalo gasalah, sebelumnya dia ngehubungin lewat dm instagram di akun kikukfilms, doi ngajakin kolaborasi gitu kurang lebih, dan aku mengiyakannya dengan memberikan email address.

Aku membaca email yang isinya CV dan juga beberapa showreel. Aku sampai saat ini belum tau mau meresponnya seperti apa. Aku ngga tau harus balas gimana, karena sebetulnya masih belum paham juga doi maunya bikin karya bareng, atau pengen ngeditin film kita, atau pengen ke indonesia dan butuh host. Belum jelas sebetulnya, dan diriku ini juga belum punya cukup niat untuk menanyakan kejelasannya itu.

Kelar nonton satu video showreelnya yang cukup biasa dengan musik-musik showreel kebanyakan, showreel dengan visual biasa saja tapi musiknya yang terlalu epic untuk menjadi musik latar belakang. Aku tidak bermaksud untuk merendahkan selera orang, cuma aku just wondering kenapa seolah showreel itu udah ada template-nya gitu, rata-rata showreel yang aku liat selama ini di youtube kebanyakan juga bergaya serupa.

Skip skip skip masalah itu, akhirnya aku ketiduran entah karena menonton video showreel lainnya atau karena membaca CVnya, sudah lupa aku, padahal belum sehari pula. Intinya isi CVnya bagus, banyak sekali karya yang udah dikerjain sama doi, cuma aku aja masih bingung balasnya gimana.

2. The Book
Ketiduran dari jam 8 sampai setengah 11, aku masih bermalas-malasan, buka instagram, line, twitter, facebook secara bergantian, padahal ngga ada notif yang begitu berarti. Hmm seharusnya aku bangun, mandi trus baca buku, idealnya.

Beberapa puluh menit kemudian aku memutuskan untuk beranjak dari tempat tidurku, lalu aku membawa mug untuk mengambil air di dispenser. Aku duduk di kursi ruang TV dengan kamar kosku, sebuah kursi yang biasa aku dudukin kalau pengen suasana yang beda daripada meja di kamar. Aku duduk meneguk air putih hingga habis setengah, lalu aku yang masih tak memakai kaos (hanya ditutupi handuk) masuk ke kamar untuk mengambil laptop. Aku menggunakan mode tablet di laptopku, lalu membuka sebuah e-book Film Art, sebuah kitab yang wajib dimiliki dan dibaca oleh insan perfilman, khususnya mahasiswa film. Tapi sebelum itu, aku merapikan isi folder download, lalu membuat folder khusus e-book, lalu di dalamnya kubuat lagi folder film e-books.

Sekilas info, jadi beberapa hari yang lalu aku dan Bunga memutuskan untuk mulai membaca buku film, setelah merenung karena menonton sidang karya tugas akhir yang nampaknya cukup mengerikan jika tidak kita siapkan dari sekarang dengan amunisi yang mumpuni, yaitu buku film. Kita berencana baca 1 buku bareng, lalu menonton film yang dibahas di buku itu, lalu mendiskusikannya di akhir pekan, lalu lanjut membacanya lagi. Tapi beberapa hari berlangsung hal itu masih menjadi wacana saja, terlebih lagi karena banyaknya pekerjaan/editan dan juga mixing film pendek kami yang harus dirampungkan karena kebutuhan akan didistribusikan di festival film JAFF (Jogja). Di tengah-tengah kami sedang mengedit, aku nyeletuk dan bilang gimana kalau kita mulai baca dari tanggal 1 september. Pikirku, hal-hal semacam ini harus dimulai di hari dan tanggal yang mudah diingat dan awal bulan/tanggal 1 menandakan suatu awal. Bagi kami, semoga ini menjadi awal dari hal yang baik.
Buku yang kita pilih yaitu Film Art: an Introduction edisi 11. Buku yang aku download ketika nunggu Bunga ngedit di kosannya beberapa hari yang lalu, waktu itu kita coba mempraktekkan membaca buku itu, menjelajah daftar isi dan coba membaca 1 halaman. Sekali bunga nyeletuk, "bacain dong buat gue". Oke jadi aku punya trik lucu, jadi aku pakai fitur read aloud di microsoft edge, tempat aku buka e-book itu. Nah sambil kita mendengarkan komputer membacakan tulisan itu, kami juga ikut membacanya. Kata Bunga, ini cara yang menarik dan efektif untuk belajar. Jadi selain belajar isinya, kita belajar tentang pronunciation dari kata-kata bahasa inggris di buku itu.
Buku ini seharusnya sudah kita habiskan ketika semester awal, setidaknya semester 4 sudah habis terbaca, tapi entah kenapa  mager banget rasanya baca buku tebel banget dan isinya english semua. Akhirnya baru niat baca sekarang, setelah ada rasa takut akan sidang akhir nanti.
Oke jadi aku baca bab pertama dari buku itu, isinya kurang lebih ngejabarin tentang film as art dan juga bisnis. Berbeda dengan seni lainnya, film membutuhkan uang dan dana yang banyak pada setiap prosesnya, film juga membutuhkan kolaborasi banyak orang untuk berkarya di dalamnya. Di bab itu dijabarkan pula tentang salah kaprah mengenai pemahaman film mainstream yang dibilang film untuk entertainment, lalu film art ialah film-film yang benar-benar hanya mementingkan estetika.

Kurang lebih itu yang aku inget dari 3 halaman yang aku baca. Adzan dzuhur berkumandang, artinya aku harus beli makan, supaya setelah makan bisa bersiap-siap untuk ke kampus karena ada kelas jam 1.

3. The Lunch
Aku beli nasi padang rizky dekat kosan dengan naik motor, dengan menu yang paling sering aku pesan: nasi setengah porsi + telor dadar + tempe + sayur kol + kuah. Porsi yang sedikit berlebihan tapi kombinasi lauk dan sayuran yang aku suka bikin aku selalu menghabiskan makan siang dengan menu yang hampir sama setiap aku beli nasi padang disana. Selain karena enak, harganya juga sangat sangat terjangkau dibandingkan dengan tempat lain, mungkin ada yang lebih murah tapi aku yakin tidak seenak yang aku pesan ini. Tak lupa aku membeli 2 potong pepaya di akang-akang langganan di depan nasi padang seharga 5.000, jadi total harga makan siangku ini 11.000 + 5.000 = 16.000.

Aku menghabiskan makan siang ini di meja kamar sambil lanjut menonton series The Naked Director di indoxxi. Aku menonton episode 2 dan pecah banget, tapi karena 10 menit lagi sudah jam 1, jadi aku memutuskan untuk menunda dan mandi serta siap-siap untuk ke kampus.

4. The Students
Sampai di kampus, pertama sedikit dibingungkan dengan alur baru menuju parkiran, karena sedang ada renovasi. Kemudian aku masuk kelas, dan kaget banget karena dari luar kelas keliatan penuh, aku pun mengintip dari pintu dan menanyakan ke Afda, salah satu mahasiswi seniorku, dan salah satu dari sangat sedikit orang yang aku kenal di kelas itu.

Kelasnya tidak begitu besar, tapi mahasiswanya banyak sekali, aku masuk dan tersisa tempat duduk di pojokan, untungnya disampingku ada junior yang sudah aku kenal. Jadi aku ngga terlalu merasa asing disini. Aku nanya ke dia jumlah mahasiswa dengan major penyutradaraan di angkatan mereka (2017), katanya ada 24 orang. Waduh pantes saja kelas ini penuh, pikirku. Mulanya minder banget aku masuk kelas sebagai seorang yang lebih tua 1 tahun di kampus ini. Tapi ya sudahlah, untung saja ada beberapa kawan, kalau ga salah ada 4 orang lainnya dari angkatan yang sama denganku ada di kelas itu, kelas Penyutradaraan Non Drama, kelas yang seharusnya aku ambil setahun yang lalu, tapi karena krs sudah cukup penuh dan ada mata kuliah yang jadwalnya bentrok ketika itu, maka aku baru bisa mengambilnya sekarang.

5. The Lecture
First Impression, jujur saja aku sedikit meremehkan orang yang duduk di bangku dosen ini. Pasalnya ia tak pernah aku liat tampangnya di kampus, maupun di media. Terlebih ketika aku masuk kelas ini, yang mana aku telat sekitar 20 menitan, ternyata kelas ini belum dimulai. Kemudian belasan menit aku berada di kelas itu si mas-mas dosen ini masih sibuk dengan kabel dan remote projektor yang tidak kunjung berfungsi.

Otomatis di pikiranku terbentuk asumsi bahwa ini mungkin dosen yang akan cukup membosankan, mungkin juga dia bakal banyak memberikan materi saja tanpa banyak pengalaman di lapangan. Serta banyak lagi asumsi-asumsi negatif lainnya, terlebih ketika dia sekali berbicara kepada kami mengatakan untuk menunggu sebentar karena ia masih berkutit dengan kabel projektor itu, huftt.

6. The Portfolio
Dosen ini mulai memperkenalkan dirinya, ia menampilkan sebuah dokumen yang berisi portofolionya.

Wah, aku salah.

Asumsi-asumsi negatif tadi langsung teruntuhkan karena sangat banyakknya program acara yang sudah ia kerjakan, spesifiknya lagi, sudah ia pimpin sebagai program director. Mulai dari Indonesian Idol, Piala AFF, hingga upacara kemerdekaan ke-74 Indonesia beberapa waktu lalu.

Oke mas Agung (namanya), menceritakan lumayan banyak pengalamannya di dunia televisi. Ternyata cukup mengasyikkan sebagai pertemuan pertama kuliah, karena orangnya tak sekaku yang aku kira sebelum ia memulai perkuliahan itu.

Menariknya, ia juga menjanjikan akan membawa kami (mahasiswa) untuk datang ke salah satu program acara televisi untuk melihat langsung bagaimana pekerjaan para kru dibalik layarnya bekerja. Hmm oke juga nih dosen, aku sih berharap kedepannya semoga banyak yang bisa dibagikan oleh dosen ini. Sempet juga terlintas dipikiranku, kenapa aku ngga magang di dia aja yaa.. hehehe, bisa aja nih otak mahasiswa oportunis.

7. The Red Cross
Semalam sebelumnya, aku berjanji dengan Vian untuk melaksanakan kewajiban rutin kami setiap tiga bulan yaitu donor darah. Oke jadi setelah kelas, aku bertemu Vian, sedikit mengobrol, lalu ke ruang akademik sebentar untuk urusan akademiknya Bunga yang harus aku tanyakan.

Kami berdua menuju kosan untuk ngambil kartu donor, kemudian langsung saja ke gedung PMI Jakarta Pusat, yang posisinya deket banget sama kosan dan juga kampus. Sampai sana, tak seperti biasanya, sepi banget. Karena biasanya kami donor malam hari, bahkan tengah malam, sehingga ramai.

Ohya rencana donor ini sebenarnya sudah ada dari beberapa minggu yang lalu, tapi karena beberapa kesibukan kami jadi tertunda dan baru kelaksana sekarang. Biasanya juga kami donor dengan Reksy, temen kampus sekaligus temen kosan, tapi berhubung ia sudah donor duluan beberapa minggu yang lalu, trus dia juga sedang ada di luar kota, jadi aku donor berdua saja dengan Vian.

Tanpa banyak antri, donor dilakukan seperti biasanya dan semuanya berjalan dengan baik dan normal, kecuali setelah donor, aku ke kantin untuk menukarkan nota dengan makanan gratis. Ternyata, kalau siang/sore kita donor, kita dapat makanan yang dimasak dan bisa dinikmati disana. Aku baru tau, karena sebelumnya yang kami dapat ialah tas dengan isi mie instan, minuman kotak, susu kotak, dan snack. Kali ini cukup berbeda, dan aku senang, meskipun menunya ngga bisa pilih. Tapi rasa dari lontong sayur yang tidak terlalu segar ini lumayan membuat perasaanku lebih baik hari ini.

Sambil menunggu Vian kelar donor, aku makan. Vian datang lalu kami mengobrol sekitar setengah jam mengenai film, kampus, sampai hal-hal sepele. Lalu sekitar setengah 5 kami memutuskan untuk pindah tempat dari kantin tersebut, lebih tepatnya aku mau pulang, padahal Vian memelas untuk menemaninya cerita di tempat lain, kafe mungkin. Tapi kali ini aku cukup berani dan sedikit jahat karena menolaknya, duh maaf yaa Vian. Tapi aku punya janji sama diriku sendiri di kos.

Sebelum ke kos, aku harus ke kampus untuk mengantar Vian mengambil sepedanya. Di perjalanan dia keliatan cukup kesal denganku, entah sungguhan atau dilebih-lebihkan.

8. The Surprise
Sampai di kampus, kami berpapasan dengan beberapa teman seangkatan kami. Ketika hendak pulang, aku dicegat oleh Rama, salah satu teman seangkatan yang mengambil major sinematografi. Kami membicarakan tentang tugas akhir, tentunya pembahasan yang wajib kali ini ialah mengenai kelompok tugas akhir. Ia sempat menanyakan tentang siapa saja sutradara yang memerlukan sinematografer di kelompoknya, lalu basa-basi lainnya. Hingga saatnya satu kejutan yang selalu aku berusaha hindari ketika membicarakan tentang tugas akhir.

Yaitu.. Lamaran.

Entah kenapa pembahasan mengenai kelompok tugas akhir di kampusku masih menjadi pembicaraan yang cukup tabu di kampus, setidaknya menurutku sendiri. Aku merasakan sedikit banyaknya kecanggungan ketika teman membicarakan hal ini.

Jawabanku atas lamaran dia adalah, aku memilih untuk menunda dan akan menanyakan ke kelompokku terlebih dahulu, karena ini adalah keputusan kelompok, dan bukan cuma keputusan sutradara saja. Karena tugas akhir menyangkut hajatan seluruh anggota kelompok, suka ngga suka, semuanya harus diputuskan bersama.

Kami pulang, lucunya adalah percakapan kami itu berlangsung di atas motor kami masing-masing, dengan mesin yang masih menyala dan juga helm masih di kepala. Kami saling melontarkan hal-hal serius namun selalu dibalut dengan candaan supaya tidak terlalu awkward.

Di perjalanan pulang aku memutuskan untuk langsung memberitahu Bunga mengenai hal ini. Sambil naik motor aku chat Bunga via line. Sampai kosan pun aku berniat menceritakan semuanya, beberapa kali aku mencoba menelepon Bunga, tapi dia ngga mau bersuara. Alhasil sampai sekarang semua ini belum dibicarakan dengan serius bersama Bunga maupun anggota kelompokku yang lainnya.

Hari ini menjadi hari yang cukup banyak rasanya. Aku tak tau harus lebih berpihak dengan rasa yang seperti apa. Tapi yang paling aku nantikan ialah hari-hari dengan kejutan, apapun itu. Setidaknya hal itu yang buat aku lebih bersemangat untuk menggerakkan badan dan bercerita dengan orang lain, atau mungkin sekedar menuliskannya di blog ini. Salam!

Kilas Balik dan Evaluasi

Baik hari ini aku akan sedikit cerita mengenai hal-hal remeh, sepele, dan mungkin tak perlu kalian baca. Tapi bagi aku sendiri, mungkin kegiatan menulis hal-hal seperti ini menjadi penting dan sudah seharusnya aku lebih banyak melakukannya sejak dulu. Kenapa menjadi penting, karena yang paling menyenangkan buatku itu adalah bukan saat menulisnya sekarang, melainkan saat aku membacanya beberapa tahun nanti. Dulu aku terobsesi dengan jumlah atau angka banyaknya pengunjung blog ini, karena yang aku lakukan dengan blog ini ialah menulis hal-hal yang sudah kebanyakan orang waktu itu tulis, yaitu tentang tips trik berkomputer, berinternet, hingga berbagi link unduhan software ilegal dan bajakan dari link orang pula.

Sedikit kilas balik, dulu ketika SMP aku pengen banget nulis diary, pengen aja. Dilakuin pun cuma 2-3 hari kemudian bosan. Tapi apa daya, terlalu banyak distraksi dan terlalu banyak malas, baru kali ini punya niat untuk menuliskan hal ini. Mungkin karena terlalu terobsesi dengan komputer dan internet, jadi semua hal ingin aku coba. mulai dari blogging sampai programming. Inget sekali kalau pulang ke kampung, di lemari dan meja belajar di kamar akubanyak ada tulisan ww.dexjaya.com, haha. Ketika itu sedang tergila-gilanya dengan blog dan website, sekitar kelas 1 SMP. Sampai ingin beli domain dan hosting tapi belum tau caranya membeli sesuatu secara online, dan belum berani meminta orang tua untuk meminjamkan rekeningnya untuk aku gunakan. Alhasil aku sering menggunakan domain-domain dan hosting gratisan, sekedar untuk mewujudkan mimpi aku untuk mempunyai website aku sendiri.

Ingat sekali aku ingin membuat website komunitas khusus untuk siswa-siswi di SMP aku, namanya Kinone, artinya Kintamani One, sebutan lain untuk SMPN 1 Kintamani. Aku sempat belajar membuat website media sosial semacam twitter, atau facebook bermodalkan CMS, hosting, dan domain gratisan. Inget waktu itu aku sempat membuat website thekinone.tk, kinone.tk, dll. Bermodalkan koneksi modem dan ilmu yang didapat dari baca-baca di blog.

Kalo dipikir-pikir sekarang, kenapa yaa dulu aku engga nonton film dan baca buku aja sebanyak-banyaknya, atau bikin tulisan-tulisan original dan personal gini lebih banyak. Pasti bakal seneng banget rasanya ketika sudah dewasa seperti sekarang membacanya. Aku juga ngebayangin kalau misal aku udah banyak latihan nulis sejak dulu, mungkin engga akan sulit lagi sekarang tiap ada tugas untuk membuat film pendek ataupun mau bikin film pendek di luar kampus, selalu kesulitan ketika harus mencari ide dan menuliskannya.

Sebetulnya 2 postingan hari ini ingin aku buat untuk menceritakan tentang hari pertama aku masuk kuliah semester 7, semester menjelang akhir dari masa kuliah. Tapi apa daya karena mengalir begitu saja jadinya lebih banyak curhat dan kilas balik tentang masa lalu ketika masih aktif blogging.

Okelah jadi cerita tentang hari pertama kuliah semester 7 aku putuskan untuk dibuat dalam postingan lain yang terpisah dari postingan ini, biar lebih fokus dan tidak terlalu panjang.

Aku berharap dengan aku menuliskan ini semoga aku akan lebih sering lagi menuliskan isi pikiran dan juga perasaan aku, sejujur-jujurnya tanpa memikirkan siapa yang akan membacanya. Karena yang terpenting ialah aku bisa mengungkapkan semuanya, dan aku di masa depan bisa membaca dan menganalisis aku di masa kini sekaligus mengevaluasi diri sendiri sejauh mana diriku ini sudah berkembang.

Pusinggg yang Mungkin Sudah Mendarah Daging

Di semester ini aku bertekad untuk bisa tidur lebih cepat dan bangun lebih pagi. Aku menyetel fitur bed time di iphone, dengan pengaturan jam tidur 00.30 dan jam bangun 07.00. Yaa dengan tidur 6 jam lebih dikit mungkin bisa membuat badanku lebih sehat dan tidak lemes karena kebanyakan ataupun kekurangan tidur ya. Tapi apa daya seringkali diriku melanggar komitmenku ini.

Pasalnya setiap aku tidur kurang dari 8 jam, pasti setengah jam setelah bangun selalu pusing kepala ini hingga berjam-jam. Pusing migrain ini membuat aku ngga nyaman tiap harinya, sehingga aku harus siap sedia kopi untuk jadi penangkalnya. Sebenarnya pusing-pusing ini udah mulai dari SMA waktu sering begadang gitu, nanya ortu katanya kurang darah mungkin makanya jangan kebanyakan begadang. Trus ketika lulus SMA udah ngga dateng lagi itu sakit kepala. Tapi sempat muncul lagi, aku lupa tepatnya semester berapa, mungkin sekitar semester 3 atau 4, semester yang paling mengubah diriku, semester yang paling hectic, banyak sekali kesempatan bertebaran dimana-mana. Mungkin itu salah satu penyebab pusing itu dateng lagi.

Hingga sekarang, mungkin sudah sekitar 2 bulanan, hampir tiap hari kalau aku tidur kurang dari 8 jam, pasti pusing ini muncul. Ada niat pengen periksa dokter, tapi males karena takutnya cuma dibilang karena kurang tidur, kebanyakan begadang, kurang darah, trus dikasi sangobion dan bayar mahal. Males kan.

Di hari tulisan ini dibuat pun, aku baru kelar donor darah ditemani Vian, dan otomoatis ketika bisa donor darah, berarti kondisi kesehatanku sedang baik-baik saja kan yaa.

Ini sebetulnya dalam tulisan ini awalnya aku mau nyeritain tentang hari pertama kuliah di semester 7, eh malah lebih banyak bahas soal kepala pusing. Tapi yaudah deh, aku bikin postingan khusus deh terpisah dengan ini, untuk cerita di hari pertama kuliah semester 7 ku.

Udah yaa, mungkin itu saja untuk tulisanku kali ini. Harapanku ialah aku lebih bisa menghargai kesehatan, menghargai hidup, dengan makan makanan sehat, bisa memulai olahraga dan workout, hmm, susah terus yaa mau mulai olahraga. Apalagi kemarin liat Joko Anwar di tv badannya makin gemuk tapi isi kepalanya juga gemuk, jadi makin males deh untuk mulai olahraga, maunya nonton series netflix aja sambil tiduran.

Sunday, 1 September 2019

Sebuah Ulasan Setelah Menonton Gundala (2019)

Ulasan ini merupakan salinan dari akun letterboxd-ku: letterboxd.com/jayawiguna

Cukup rame, aku suka hampir semua set designnya, pokoknya artnya lumayan lah yaa.

Ceritanya cukup biasa, banget. Bisa ditemui banyak cerita yang seperti ini, mungkin.

Sampai saat ini belum tau motivasi diri si sancaka memutuskan untuk menjadi pahlawan (mengorbankan kepentingan diri sendiri untuk kepentingan orang banyak), selain cuma dari quotes dari si bapak-bapak mentor di pabrik, dan juga parenting dari alm ayahnya.

Masih banyak bingungnya sih waktu nonton, mungkin karena terlalu banyak yang ingin disampaikan demi membuka jagat sinemanya bumilangit kali ya. Banyak logika-logika yang ngga nyampe di kepalaku sebagai manusia biasa.

Seorang dosen pernah bilang, superhero asia itu ciri khasnya dibentuk, bukan dilahirkan. Dan ini berlaku untuk sancaka juga, dia dari kecil udah dibanting, dibenturkan dengan hidup, dilempar, sampai gede pun sama, sehingga bisa terbentuklah gundala, si jagoan kita. Tapi dalam proses pembenturan, pembentukannya itu banyak hal yang kurang masuk di logikaku, gitu aja sih.

Fighting-nya lumayan, setidaknya lebih bagus dikit daripada wiro. Banyak penggunaan shot-shot lebar waktu berantem, ciri khas berantem asia, ngga kayak wiro yang banyakan shot padetnya jadi ga keliatan berantem, banyakan trik kamera dan editing. Cuma konsekuensinya, ketika dikasi shot-shot wide waktu berantem, jadi keliatan banget staging dan koreografinya. Rapi banget berantemnya gitu.

Dari awal sampai menuju akhir bisa dibilang cukup seru nontonnya, cuma mau ke ending kok jadi turun gini yaa. Bingung saya, mungkin karena serum serum amoral si bangsat ini dah. Niatnya sih jenius yaa, mau nyentil permasalahan moral yang selalu jadi masalah di negeri ini, dengan satu tokoh cukup keren, si bapak2 anggota dewan yang idealis itu siapa ya namanya. Cuma sayangnya dia tak bisa cukup mengimbangi kengakak'an yang ditimbulkan oleh term amoral ini hahaha.

Hmm apalagi yaa yang bisa diinget.

Udah deh untuk kali ini, semoga ini jadi pembuka yang baik untuk wajah baru perfilman Indonesia. Semoga ya semoga terus ya.

Sekian,

Nonton hari pertama (29/08) bareng Bunga, Juni dan Faiz di:
#CGV Bella Terra

Sebuah Ulasan Setelah Menonton Mantan Manten (2019)

Ulasan ini merupakan salinan dari akun letterboxd-ku: letterboxd.com/jayawiguna

Sebuah drama ala visinema dengan kearifan imam syafi'i.

Sebelumnya sempat dapat beberapa bocoran dari angga sasongko mengenai kisah di balik pembuatannya, yang mana katanya setelah diedit ternyata opening maupun ending dari film ini tidak ada yang bisa membuat penonton engage. Sehingga harus dipilih: harus retake opening atau ending. Mereka memutuskan untuk retake bagian ending, alasannya karena: film ini akan tayang di bioskop, ketika penonton bosan dengan opening, sangat kecil kemungkinan penonton akan keluar dan membuang uangnya begitu saja, penonton akan terpaksa mengikuti filmnya meskipun sejak awal sudah membosankan. Karena film panjang, banyak informasi yang bisa diserap penonton, dan informasi yang paling bisa engage di kepala penonton hingga keluar dari gedung bioskop dan menjadi bahan pembicaraan di tongkrongan ialah ending dari filmnya. Sehingga dipilihlah untuk menyelamatkan bagian ending dari film ini.

Kurang lebih seperti itu cerita yang saya dapatkan ketika ikut mentorshipnya angga.

Cerita itu membuat aku jadi punya ekspektasi yang tinggi dengan ending film ini. Dan benar, saya akui opening film ini terlalu membosankan dan terkesan terlalu intelek untuk ditayangkan di Indonesia. Banyak istilah yang belum aku paham dari obrolan-obrolan mereka. Jadi yang aku lakukan adalah menyerap poin yang mau disampaikan dari sequence ini apa sih, apa sih yang terjadi dengan karakter jagoan kita.

Sekitar 30 menit pertama cukup membosankan, yasudahlah yaa. Ketika mendapatkan informasi bahwa si ibu pemaes ini membutuhkan penerus, langsung saja di kepala ini merangkai kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dengan jagoan kita. Kemungkinan yang paling mungkin terjadi dengan jagoan kita di akhir film ini sudah bisa dipastikan di bagian ini. Sehingga bisa dibilang ketika film ini berakhir, tidak ada kejutan lagi. Memang sih tidak ada salahnya dengan film yang alurnya bisa ditebak. Tapi tetap saja, antisipasi dan surprise menjadi pengalaman menonton yang tak bisa tergantikan.

Oke kita lupakan struktur cerita yang cukup biasa ini. Mari memetik hal-hal yang baik dari film ini. Saya mendapatkan beberapa informasi menarik tentang adat pernikahan Jawa. Film ini juga membuat saya berpikir kembali tentang salah satu teman saya yang sempat beropini:

"Kalo di bali sih budaya dan agamanya bisa bonding, tak bertentangan. Beda dengan agama gue (islam) yang tak bisa disatukan dengan budaya (bertentangan)"

Oh no man, buktinya asimilasi (?) / akulturasi (?) bisa terjalin begitu baik di adat Jawa, salah satunya adat pernikahan ini. Saya tidak cukup tau apakah adat ini benar-benar masih diterapkan dengan baik dan tak ada menentang. Ohya juga tentang seorang pemaes harus dari garis keraton. Semoga tetap lestari dan bisa berdampingan dengan budaya-budaya lain yang masuk ya.

Sebagai seorang yang cukup sentimental, film ini bisa aku bilang cukup mempunyai perasaan, dan bisa menyentuh perasaan, terutama di ending. Aku ngga bisa bayangin gimana jadinya kalau endingnya engga di retake, sehingga bisa dibilang itu merupakan keputusan yang tepat.

Sebetulnya adegannya cukup biasa lah ya, aku rasa yang sangat 'mengangkat' film ini yaa soundtracknya, pemilihan lagu monita dan sal pas banget. Cuma ada bagian lagu sal yang engga cukup rapi dan terkesan dipaksakan.

Aku suka posternya, tipografinya, credit titlenya (meskipun tone nya beda dan jomplang dengan filmnya).

Udah, sekian.

Nonton sendiri di kos (01/09) di:
#iflix (trus di pertengahan film pindah ke indoxxi karena engga tahan sama auto ganti resolusi yang ngeselin)