Monday, 2 September 2019

Kilas Balik dan Evaluasi

Baik hari ini aku akan sedikit cerita mengenai hal-hal remeh, sepele, dan mungkin tak perlu kalian baca. Tapi bagi aku sendiri, mungkin kegiatan menulis hal-hal seperti ini menjadi penting dan sudah seharusnya aku lebih banyak melakukannya sejak dulu. Kenapa menjadi penting, karena yang paling menyenangkan buatku itu adalah bukan saat menulisnya sekarang, melainkan saat aku membacanya beberapa tahun nanti. Dulu aku terobsesi dengan jumlah atau angka banyaknya pengunjung blog ini, karena yang aku lakukan dengan blog ini ialah menulis hal-hal yang sudah kebanyakan orang waktu itu tulis, yaitu tentang tips trik berkomputer, berinternet, hingga berbagi link unduhan software ilegal dan bajakan dari link orang pula.

Sedikit kilas balik, dulu ketika SMP aku pengen banget nulis diary, pengen aja. Dilakuin pun cuma 2-3 hari kemudian bosan. Tapi apa daya, terlalu banyak distraksi dan terlalu banyak malas, baru kali ini punya niat untuk menuliskan hal ini. Mungkin karena terlalu terobsesi dengan komputer dan internet, jadi semua hal ingin aku coba. mulai dari blogging sampai programming. Inget sekali kalau pulang ke kampung, di lemari dan meja belajar di kamar akubanyak ada tulisan ww.dexjaya.com, haha. Ketika itu sedang tergila-gilanya dengan blog dan website, sekitar kelas 1 SMP. Sampai ingin beli domain dan hosting tapi belum tau caranya membeli sesuatu secara online, dan belum berani meminta orang tua untuk meminjamkan rekeningnya untuk aku gunakan. Alhasil aku sering menggunakan domain-domain dan hosting gratisan, sekedar untuk mewujudkan mimpi aku untuk mempunyai website aku sendiri.

Ingat sekali aku ingin membuat website komunitas khusus untuk siswa-siswi di SMP aku, namanya Kinone, artinya Kintamani One, sebutan lain untuk SMPN 1 Kintamani. Aku sempat belajar membuat website media sosial semacam twitter, atau facebook bermodalkan CMS, hosting, dan domain gratisan. Inget waktu itu aku sempat membuat website thekinone.tk, kinone.tk, dll. Bermodalkan koneksi modem dan ilmu yang didapat dari baca-baca di blog.

Kalo dipikir-pikir sekarang, kenapa yaa dulu aku engga nonton film dan baca buku aja sebanyak-banyaknya, atau bikin tulisan-tulisan original dan personal gini lebih banyak. Pasti bakal seneng banget rasanya ketika sudah dewasa seperti sekarang membacanya. Aku juga ngebayangin kalau misal aku udah banyak latihan nulis sejak dulu, mungkin engga akan sulit lagi sekarang tiap ada tugas untuk membuat film pendek ataupun mau bikin film pendek di luar kampus, selalu kesulitan ketika harus mencari ide dan menuliskannya.

Sebetulnya 2 postingan hari ini ingin aku buat untuk menceritakan tentang hari pertama aku masuk kuliah semester 7, semester menjelang akhir dari masa kuliah. Tapi apa daya karena mengalir begitu saja jadinya lebih banyak curhat dan kilas balik tentang masa lalu ketika masih aktif blogging.

Okelah jadi cerita tentang hari pertama kuliah semester 7 aku putuskan untuk dibuat dalam postingan lain yang terpisah dari postingan ini, biar lebih fokus dan tidak terlalu panjang.

Aku berharap dengan aku menuliskan ini semoga aku akan lebih sering lagi menuliskan isi pikiran dan juga perasaan aku, sejujur-jujurnya tanpa memikirkan siapa yang akan membacanya. Karena yang terpenting ialah aku bisa mengungkapkan semuanya, dan aku di masa depan bisa membaca dan menganalisis aku di masa kini sekaligus mengevaluasi diri sendiri sejauh mana diriku ini sudah berkembang.

Pusinggg yang Mungkin Sudah Mendarah Daging

Di semester ini aku bertekad untuk bisa tidur lebih cepat dan bangun lebih pagi. Aku menyetel fitur bed time di iphone, dengan pengaturan jam tidur 00.30 dan jam bangun 07.00. Yaa dengan tidur 6 jam lebih dikit mungkin bisa membuat badanku lebih sehat dan tidak lemes karena kebanyakan ataupun kekurangan tidur ya. Tapi apa daya seringkali diriku melanggar komitmenku ini.

Pasalnya setiap aku tidur kurang dari 8 jam, pasti setengah jam setelah bangun selalu pusing kepala ini hingga berjam-jam. Pusing migrain ini membuat aku ngga nyaman tiap harinya, sehingga aku harus siap sedia kopi untuk jadi penangkalnya. Sebenarnya pusing-pusing ini udah mulai dari SMA waktu sering begadang gitu, nanya ortu katanya kurang darah mungkin makanya jangan kebanyakan begadang. Trus ketika lulus SMA udah ngga dateng lagi itu sakit kepala. Tapi sempat muncul lagi, aku lupa tepatnya semester berapa, mungkin sekitar semester 3 atau 4, semester yang paling mengubah diriku, semester yang paling hectic, banyak sekali kesempatan bertebaran dimana-mana. Mungkin itu salah satu penyebab pusing itu dateng lagi.

Hingga sekarang, mungkin sudah sekitar 2 bulanan, hampir tiap hari kalau aku tidur kurang dari 8 jam, pasti pusing ini muncul. Ada niat pengen periksa dokter, tapi males karena takutnya cuma dibilang karena kurang tidur, kebanyakan begadang, kurang darah, trus dikasi sangobion dan bayar mahal. Males kan.

Di hari tulisan ini dibuat pun, aku baru kelar donor darah ditemani Vian, dan otomoatis ketika bisa donor darah, berarti kondisi kesehatanku sedang baik-baik saja kan yaa.

Ini sebetulnya dalam tulisan ini awalnya aku mau nyeritain tentang hari pertama kuliah di semester 7, eh malah lebih banyak bahas soal kepala pusing. Tapi yaudah deh, aku bikin postingan khusus deh terpisah dengan ini, untuk cerita di hari pertama kuliah semester 7 ku.

Udah yaa, mungkin itu saja untuk tulisanku kali ini. Harapanku ialah aku lebih bisa menghargai kesehatan, menghargai hidup, dengan makan makanan sehat, bisa memulai olahraga dan workout, hmm, susah terus yaa mau mulai olahraga. Apalagi kemarin liat Joko Anwar di tv badannya makin gemuk tapi isi kepalanya juga gemuk, jadi makin males deh untuk mulai olahraga, maunya nonton series netflix aja sambil tiduran.

Sunday, 1 September 2019

Sebuah Ulasan Setelah Menonton Gundala (2019)

Ulasan ini merupakan salinan dari akun letterboxd-ku: letterboxd.com/jayawiguna

Cukup rame, aku suka hampir semua set designnya, pokoknya artnya lumayan lah yaa.

Ceritanya cukup biasa, banget. Bisa ditemui banyak cerita yang seperti ini, mungkin.

Sampai saat ini belum tau motivasi diri si sancaka memutuskan untuk menjadi pahlawan (mengorbankan kepentingan diri sendiri untuk kepentingan orang banyak), selain cuma dari quotes dari si bapak-bapak mentor di pabrik, dan juga parenting dari alm ayahnya.

Masih banyak bingungnya sih waktu nonton, mungkin karena terlalu banyak yang ingin disampaikan demi membuka jagat sinemanya bumilangit kali ya. Banyak logika-logika yang ngga nyampe di kepalaku sebagai manusia biasa.

Seorang dosen pernah bilang, superhero asia itu ciri khasnya dibentuk, bukan dilahirkan. Dan ini berlaku untuk sancaka juga, dia dari kecil udah dibanting, dibenturkan dengan hidup, dilempar, sampai gede pun sama, sehingga bisa terbentuklah gundala, si jagoan kita. Tapi dalam proses pembenturan, pembentukannya itu banyak hal yang kurang masuk di logikaku, gitu aja sih.

Fighting-nya lumayan, setidaknya lebih bagus dikit daripada wiro. Banyak penggunaan shot-shot lebar waktu berantem, ciri khas berantem asia, ngga kayak wiro yang banyakan shot padetnya jadi ga keliatan berantem, banyakan trik kamera dan editing. Cuma konsekuensinya, ketika dikasi shot-shot wide waktu berantem, jadi keliatan banget staging dan koreografinya. Rapi banget berantemnya gitu.

Dari awal sampai menuju akhir bisa dibilang cukup seru nontonnya, cuma mau ke ending kok jadi turun gini yaa. Bingung saya, mungkin karena serum serum amoral si bangsat ini dah. Niatnya sih jenius yaa, mau nyentil permasalahan moral yang selalu jadi masalah di negeri ini, dengan satu tokoh cukup keren, si bapak2 anggota dewan yang idealis itu siapa ya namanya. Cuma sayangnya dia tak bisa cukup mengimbangi kengakak'an yang ditimbulkan oleh term amoral ini hahaha.

Hmm apalagi yaa yang bisa diinget.

Udah deh untuk kali ini, semoga ini jadi pembuka yang baik untuk wajah baru perfilman Indonesia. Semoga ya semoga terus ya.

Sekian,

Nonton hari pertama (29/08) bareng Bunga, Juni dan Faiz di:
#CGV Bella Terra

Sebuah Ulasan Setelah Menonton Mantan Manten (2019)

Ulasan ini merupakan salinan dari akun letterboxd-ku: letterboxd.com/jayawiguna

Sebuah drama ala visinema dengan kearifan imam syafi'i.

Sebelumnya sempat dapat beberapa bocoran dari angga sasongko mengenai kisah di balik pembuatannya, yang mana katanya setelah diedit ternyata opening maupun ending dari film ini tidak ada yang bisa membuat penonton engage. Sehingga harus dipilih: harus retake opening atau ending. Mereka memutuskan untuk retake bagian ending, alasannya karena: film ini akan tayang di bioskop, ketika penonton bosan dengan opening, sangat kecil kemungkinan penonton akan keluar dan membuang uangnya begitu saja, penonton akan terpaksa mengikuti filmnya meskipun sejak awal sudah membosankan. Karena film panjang, banyak informasi yang bisa diserap penonton, dan informasi yang paling bisa engage di kepala penonton hingga keluar dari gedung bioskop dan menjadi bahan pembicaraan di tongkrongan ialah ending dari filmnya. Sehingga dipilihlah untuk menyelamatkan bagian ending dari film ini.

Kurang lebih seperti itu cerita yang saya dapatkan ketika ikut mentorshipnya angga.

Cerita itu membuat aku jadi punya ekspektasi yang tinggi dengan ending film ini. Dan benar, saya akui opening film ini terlalu membosankan dan terkesan terlalu intelek untuk ditayangkan di Indonesia. Banyak istilah yang belum aku paham dari obrolan-obrolan mereka. Jadi yang aku lakukan adalah menyerap poin yang mau disampaikan dari sequence ini apa sih, apa sih yang terjadi dengan karakter jagoan kita.

Sekitar 30 menit pertama cukup membosankan, yasudahlah yaa. Ketika mendapatkan informasi bahwa si ibu pemaes ini membutuhkan penerus, langsung saja di kepala ini merangkai kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi dengan jagoan kita. Kemungkinan yang paling mungkin terjadi dengan jagoan kita di akhir film ini sudah bisa dipastikan di bagian ini. Sehingga bisa dibilang ketika film ini berakhir, tidak ada kejutan lagi. Memang sih tidak ada salahnya dengan film yang alurnya bisa ditebak. Tapi tetap saja, antisipasi dan surprise menjadi pengalaman menonton yang tak bisa tergantikan.

Oke kita lupakan struktur cerita yang cukup biasa ini. Mari memetik hal-hal yang baik dari film ini. Saya mendapatkan beberapa informasi menarik tentang adat pernikahan Jawa. Film ini juga membuat saya berpikir kembali tentang salah satu teman saya yang sempat beropini:

"Kalo di bali sih budaya dan agamanya bisa bonding, tak bertentangan. Beda dengan agama gue (islam) yang tak bisa disatukan dengan budaya (bertentangan)"

Oh no man, buktinya asimilasi (?) / akulturasi (?) bisa terjalin begitu baik di adat Jawa, salah satunya adat pernikahan ini. Saya tidak cukup tau apakah adat ini benar-benar masih diterapkan dengan baik dan tak ada menentang. Ohya juga tentang seorang pemaes harus dari garis keraton. Semoga tetap lestari dan bisa berdampingan dengan budaya-budaya lain yang masuk ya.

Sebagai seorang yang cukup sentimental, film ini bisa aku bilang cukup mempunyai perasaan, dan bisa menyentuh perasaan, terutama di ending. Aku ngga bisa bayangin gimana jadinya kalau endingnya engga di retake, sehingga bisa dibilang itu merupakan keputusan yang tepat.

Sebetulnya adegannya cukup biasa lah ya, aku rasa yang sangat 'mengangkat' film ini yaa soundtracknya, pemilihan lagu monita dan sal pas banget. Cuma ada bagian lagu sal yang engga cukup rapi dan terkesan dipaksakan.

Aku suka posternya, tipografinya, credit titlenya (meskipun tone nya beda dan jomplang dengan filmnya).

Udah, sekian.

Nonton sendiri di kos (01/09) di:
#iflix (trus di pertengahan film pindah ke indoxxi karena engga tahan sama auto ganti resolusi yang ngeselin)